Kekalahan Alex Noerdin dalam Pilgub DKI Jakarta mengindikasikan tidak efektifnya kerja mesin partai. Kekalahan ini harus menjadi evaluasi untuk menguatkan soliditas partai dalam mengusung calon dalam kontestasi politik lainnya.
"Kekalahan ini menyedihkan, suara Pak Alex di bawah Faisal Basri yang notabene calon independen. Mesin partai tidak bisa berfungsi secara efektif untuk memberi dukungan, padahal ada 3 partai pendukung yakni Golkar, PPP dan PDS," ujar Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung saat dihubungi wartawan, Kamis (12/7/2012).
Perolehan suara Alex yakni di bawah 5 persen sebagaimana hasil hitung cepat lembaga survei, kata Akbar lebih rendah dibanding perolehan suara Golkar di DKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya Pilgub Jakarta menjadi barometer kekuatan partai secara nasional. "Tapi kita ternyata mengalami penurunan tajam, calon dapat suara di nomor 5. Partai besar tapi tidak bisa menggenjot suara," imbuh Akbar.
Dia berharap partainya menjadikan kegagalan mengusung calon gubernur untuk menghadapi agenda politik lainnya termasuk pemilihan presiden. Dia sendiri mengaku tak tahu alasan khusus mengusung Alex yang masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Padahal semestinya calon yang akan diusung harus lebih dulu diuji publik melalui survei.
(fdn/gah)











































