Tapi survei sejumlah lembaga itu tidak menunjukkan kondisi faktual pada Rabu (11/7) kemarin. Suara Jokowi melesat, meninggalkan Foke dengan rentang sekitar 9%.
"Kemenangan pasangan Jokowi β Ahok pada Pilgub putaran pertama ini telah menjungkirbalikkan seluruh hasil survei yang selama ini dilakukan," komentar Rendra Falentino, peneliti Democracy for Prosperity and Peace (Deprospec) Institute, Kamis (12/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi ternyata hasil yang ditunjukkan oleh quick count berbeda 180 derajat," ujarnya.
Oleh sebab itu, menurut Rendra, lembaga survei sebagai salah satu instrumen yang turut melakukan penguatan terhadap proses demokratisasi harus segera melakukan evaluasi terhadap metodologi pelaksanaan survei yang mereka lakukan. "Sehingga kesalahan fatal yang terjadi pada Pilgub kali ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang," ujarnya.
Rendra juga mencatat, kesuksesan Jokowi disumbang keberhasilan media massa melakukan image building bagi Jokowi.
"Terlepas dari segala kebijakannya yang nyeleneh dan keberpihakannya kepada rakyat kecil, sebelumnya Jokowi hanyalah merupakan seorang Walikota Solo yang mungkin hanya dikenal di wilayah Kota Solo dan sekitarnya. Tetapi melalui pemberitaan media yang luar biasa massif, maka secara mendadak Jokowi menjadi figur yang dikenal di seluruh wilayah Indonesia, termasuk DKI Jakarta," bebernya.
Menurutnya, jejak rekam yang baik dari Jokowi, ditambah image building yang dilakukan oleh media massa telah sukses mendongkrak elektabilitas Jokowi pada Pilgub DKI Jakarta putaran pertama. "Fenomena ini sekali lagi membuktikan bahwa media massa memiliki peranan yang luar biasa besar bagi pelaksanaan demokrasi, dan harus turut bertanggung jawab terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia," ungkapnya.
(nrl/nrl)











































