Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengatakan kandidat yang layak masuk putaran kedua dan memenangkan pilgub DKI Jakarta adalah calon yang berhasil memperoleh dua faktor.
"Kunci kemenangan di pilkada ini hanya dua, yaitu undecided voters (pemilih yang belum memutuskan) dan swing voters (pemilih mengambang)," ujar Yunarto saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan komposisi demikian, Yunarto melanjutkan, semua calon sebenarnya memiliki peluang yang merata untuk masuk putaran kedua, bukan hanya pasangan Foke-Nara yang menurut survei sejumlah lembaga disebutkan pasti lolos.
"Karena dua faktor kunci ini yang menyebabkan akhirnya peringkat pasangan calon itu sebenarnya menjadi tidak pasti. Dalam artian, mereka punya peluang sama untuk bisa masuk putaran kedua. Sebab pemilih yang mantap di calon-calon itu juga tidak besar jumlahnya, sehingga pergeseran pemilih akibat faktor-faktor ini juga cukup besar," jelas Yunarto.
Apalagi menurutnya, jumlah undecided voters dan swing voters banyak berasal dari kalangan menengah warga Jakarta yang selalu sibuk dengan aktivitas perkantoran mereka sehingga cenderung tidak peduli dengan pilgub atau politik. Mereka juga kalangan yang paling signifikan terkena dampak problem ibukota seperti kemacetan, transportasi publik, dan keamanan. Kalangan menengah sangat signifikan menentukan siapa pemenang pilgub DKI Jakarta.
"Yang menarik juga sebetulnya dari data-data survei adalah berapa persen kelas menengah yang puas dengan kinerja incumbent ternyata masih cukup rendah. Ini bisa disimpulkan bahwa masih ada potensi orang mengubah pilihan dari incumbent kepada yang lain. Ini faktor yang menyebabkan suara masih bisa berubah, dan skenario ini yang sangat mugkin terjadi," jelas Yunarto.
Dengan kondisi demikian, kandidat incumbent pun, menurut Yunarto menjadi belum pasti untuk masuk putaran kedua. Sangat mungkin terjadi kejutan dalam pilgub DKI.
Dia mencontohkan dalam pilkada Kupang, ternyata pemenangnya adalah pasangan calon yang sebelumnya selalu disurvei terendah. "Mungkin saja malah pasangan Faisal-Biem misalnya yang mendapatkan keuntungan dari pergeseran suara dari kalangan menengah ini. Seperti pemberitaan tentang pemerintah dan parpol yang korupsi, sehingga mereka memilih pasangan ini," pungkas Yunarto.
(rmd/vit)











































