"Suasana agak sepi, pilkada DKI saat ini kan masa pilkada kedua. Ini ada proses pembelajaran, oleh para kandidat dan masyarakat. Saya pikir ada proses pembelajaran, ada kebosanan ketika melihat pesta demokrasi pilkada begini-begini saja. Pesta dangdutan dan sebagainya, tapi 5 tahun ke depan gini-gini saja," kata pengamat politik, Yunarto Wijaya, di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7/2012).
Yunarto menilai para kandidat sadar cara konvensional dalam pilgub DKI 2012 ini tidak efektif. Sehingga, proses pembelajaran politik berkembang dan menimbulkan banyaknya suara mengambang, atau disebut abu-abu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toto juga memperhatikan adanya calon incumbent yang perlu dievaluasi masa kerjanya. "Ini pilkada yang diikuti incumbent, di negara manapun dalam konteks pilkada wacana kampanye harusnya dimulai dengan evaluasi incumbent selama 5 tahun," ungkap Toto.
Keberadaan incumbent menjadikan pilgub DKI saat ini memiliki karakter karena incumbent menjadi sorotan. "Itu resiko dan kelebihan incumbent yang bisa membanggakan kinerjanya kalau bagus, dan paling banyak disorot kalau tidak bagus. Ini yang jadi karakter utama pilkada sekarang," pungkas Toto.
(vid/gah)











































