"Semua kalangan aktivis dan intelektual pro-demokrasi amat berduka. Kang Moeslim ialah tokoh mengagumkan. Sosok intelektual Muhammadiyah yang dekat dengan NU," kata pegiat HAM, Usman Hamid, Sabtu (7/7/2012).
Moeslim meninggal dunia pada Jumat (6/7) malam di RSCM. Almarhum dirawat karena menderita sakit jantung sejak Rabu (4/6). Jenazah almarhum kini disemayamkan di rumah duka di Jatibening, Bekasi.
"Ia telah mencerahkan kita tentang demokrasi yang radikal, demokrasi yang membela kaum tertindas dan terpinggirkan. Termasuk melalui caranya memperkenalkan teologi Islam transformatif, bersama Kuntowijoyo dengan ilmu sosial profetik," tutur Usman.
Sosok Moeslim memang begitu berarti. Pemikiran dan gagasannya mewarnai khazanah intelektual Indonesia pada era 1990-an. Tokoh yang dekat dengan Gus Dur itu pun telah menelurkan sejumlah buku yang banyak menjadi referensi bacaan.
Buku-bukunya antara lain 'Islam sebagai Kritik Sosial,' 'Semarak Islam Semarak Demokrasi,' dan 'Islam Transformatif.'
"Kita akan mengenang dia sebagai salah satu dari sedikit pemikir Muslim yang memperjuangkan agar Islam bisa diwujudkan sebagai nilai-nilai kebajikan publik," tuturnya.
(ndr/rmd)











































