"Ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya adalah adanya awan tipis yang berada di atas Jakarta," kata Kepala Bidang Informasi Meterologi Hadi Widyatmoko kepada detikcom, Jumat (6/7/2012).
Hadi mengatakan, awan ini memiliki ketinggian sekitar 7 km dari permukaan tanah. Awan tersebut menghalangi sinar matahari menyinari Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi mengatakan, hal ini bukan disebabkan inversi cuaca yang pernah membuat Jakarta cuaca seperti berkabut. "Kalau ini penyebabnya bukan inversi cuaca," katanya.
Hadi menjelaskan, kaburnya cuaca Jakarta bukan disebabkan kabut. Menurutnya kabut berbahan dasar air sehingga akan basah jika terkena pakaian. "Kalau kabut bahan dasarnya air, kalau ini partikelnya padat," katanya.
Inversi cuaca pernah terjadi pada Jumat (11/6), cuaca Jakarta kabur seperti berkabut. Kabut ini berasal asap emisi gas buang kendaraan bermotor. Asap ini terperangkap di bagian bawah atmosfer, tidak bisa naik ke atas.
"Ini bukan kabut. Ini merupakan smog yang berasal dari emisi gas buang yang terakumulasi di bagian bawah atmosfir," kata Hadi Widiatmoko saat itu.
(nal/nrl)











































