Anggota Banggar DPR: Tak Ada yang Janggal Dalam Pengadaan Alquran

Anggota Banggar DPR: Tak Ada yang Janggal Dalam Pengadaan Alquran

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jumat, 06 Jul 2012 10:55 WIB
Anggota Banggar DPR: Tak Ada yang Janggal Dalam Pengadaan Alquran
Jakarta - Anggota Banggar DPR, Dewi Coryati, berpendapat tidak ada kejanggalan dalam pengadaan Alquran Kementerian Agama (Kemenang). Politisi PAN ini menilai mekanismenya sudah sesuai prosedur.

"Itu kan pengadaan 305 ribu sekian dengan masing-masing Rp 75.000 pada APBNP 2011, tidak ada yang spesial. Kemenag yang punya spec, kalau kami hanya membahas anggarannya. Angka itu kan angka yang masuk akal. Jadi tidak ada yang janggal sampai kita harus berdebat. Rapat di Banggar juga sudah sangat rutin artinya tidak hanya satu atau dua orang tapi seluruh anggota Banggar," kata Dewi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/7/2012).

Ia menjelaskan Komisi VIII DPR hanya membahas anggarannya tanpa membicarakan spec Alquran yang diproduksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembahasan yang salah satunya Alquran. Pembahasan ini berdasarkan usulan pemerintah. Di dalam itu ada salah satu poinnya Alquran, ada juga anggaran yang lain. Setelah pemerintah mengajukan setelah itu dibahas di Komisi VIII disetujui anggarannya kemudian dikirim Kemenag. Kemenag harus mengisi form dari Kemenkeu. Kemudian Kemenag mengembalikan ke DPR untuk ditandatangani. Itu harus ditandatangani, kalau tidak maka anggaran itu tidak bisa direalisasikan," kata mantan anggota Komisi VIII yang sudah dipindah ke Komisi IV DPR ini.

Menurut dia, semua pimpinan Komisi VIII DPR dan pimpinan Banggar menandatangani, termasuk anggota Banggar di Komisi VIII. Alasan menyetujuinya sebagai bagian dari bimbingan Islam.

"Semua pembahasan sudah berlangsung transparan. Artinya saat itu tidak ada yang aneh, semua sesuai prosedur. Memang sudah dikritisi di Komisi. Jadi ini adalah wilayah Komisi. Kenapa kami menyetujui, bayangkan sekarang umat muslim di Indonesia lebih dari 200 juta. Kalau kita tidak menyetujui bagaimana membimbing. Saya kira jumlahnya sangat tidak sebanding dengan kepentingan membimbing muslim," tandasnya.

(van/aan)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini