Pernyataan 'Kalau Tak Setuju Tarif Naik Jangan Naik KRL' Menyakitkan Penumpang

- detikNews
Kamis, 05 Jul 2012 17:25 WIB
Jakarta - Pihak KRL Mania menyesalkan pernyataan Direktur Pemasaran PT KAI Sulistyo Wimbo yang menyarankan penumpang Commuter Line yang menolak kenaikan tarif untuk tidak naik kereta. Pernyataan ini dinilai menyakitkan hati penumpang.

"Jelas sekali pernyataan Pak Wimbo ini menyakitkan hati penumpang, yang juga pembayar pajak. Penumpang itu konsumen KRL yang membayar karcis. Ingat pajak yang kita bayarkan dipakai untuk modal KAI dan anggaran Ditjen KA," ujar Agam Fatchurrochman, Humas KRL Mania, Kamis (5/7/2012).

Menurut Agam, Meneg BUMN Dahlan Iskan memiliki program "manufacturing hope" dengan tujuan BUMN seperti PT KAI bisa mengambil hati para pengguna jasanya. Diharapkan juga PT KAI memberikan pelayanan yang baik, dengan memberi gambaran arah perbaikan ke depannya.

"Kalau tidak mampu operasikan KRL Jabodetabek yang nyaman dan terjangkau, cari pekerjaan lain saja," tutur Agam.

Agam pun meminta Meneg BUMN Dahlan Iskan untuk menegur pejabat KAI yang pernyataannya dinilai arogan. Sebab pernyataan itu tidak sejalan dengan arahan Dahlan Iskan.

Agam menyatakan, penumpang Commuter Line pada dasarnya memahami kenaikan harga untuk menutup biaya operasional kereta. Namun kenaikan itu harus dimusyawarahkan dengan stakeholder seperti penumpang, UKP4 dan Kementerian Perhubungan terlebih dulu.

"KAI seharusnya belajar bahwa setiap keputusan yang penting itu harus dikonsultasikan dengan semua pihak agar mulus. Tahun 2011, KAI mau menaikkan tiket KRL Ekonomi secara sepihak pada Sabtu 8 Januari 2011. Karena Presiden SBY keberatan, maka hari berikutnya dibatalkan," ucap dia.

"Yang paling penting itu kenaikan harga itu bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi untuk mencapai break even point dan laba. Tapi adalah proses psikologis mengambil hati konsumen agar mau membayar lebih. Ini adalah proses "manufacturing hope" kalau istilah Dahlan Iskan. Kemudian kenaikan harga perlu diimbangi oleh perbaikan pelayanan yang terasa," imbuh Agam.






(nik/nrl)