Pantauan detikcom, kota Moskow sungguh menarik dengan aktivitas perekonomian yang menakjubkan. Di jalan-jalan, berbagai variasi merek mobil berkeliaran. Tidak ada dominasi satu merek mobil di kota ini. Dari merek Jepang, Eropa, maupun Korea ada. Bahkan mobil produk KIA dan Hyundai sangat banyak di ibukota Rusia ini.
Mal dan pusat perbelanjaan juga dengan bervariasi. Brand-brand besar dan terkenal di dunia hadir di kota ini. Produk-produk gadget dari berbagai belahan dunia ada juga di kota ini, termasuk dari Amerika, meski memiliki harga yang sedikit mahal. BlackBerry sudah masuk ke Moskow, meski agak terlambat. Beberapa operator telekomunikasi baru berlomba-lomba membundling BlackBerry tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi keberagamaan, tak ada lagi pelarangan aktivitas keagamaan di Rusia di era sekarang. Bahkan, sejak 1990-an, tempat-tempat ibadah yang dihancurkan oleh pemerintah di era komunis yang lalu, sudah dibangun kembali oleh pemerintah yang baru. Baik gereja-gereja ortodoks maupun masjid-masjid. Masyarakat dari berbagai suku dan agama juga hidup berdampingian dan rukun.
Intinya, bahwa Moskow saat ini merupakan kota moderen dengan aktivitas perekonomian yang luar biasa. Di saat negara-negara Eropa mengalami krisis, Rusia seakan tidak terpengaruh.
"Di Moskow, produk yang bagus pasti laku dan tidak ada dominasi merek tertentu. Dari mana-mana ada. Ini menunjukkan bahwa Rusia sudah sangat kapitalis di era perdagangan bebas seperti ini," kata Kabid Sospenbud KBRI Moskow M Aji Surya saat berbincang-bincang mengenai Moskow, Rabu (4/7/2012).
Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia, Djauhari Oratmangun, memang mengakui masih banyaknya orang di dunia, termasuk Indonesia, keliru dalam melihat Rusia. "Persepsi tentang Rusia ini harus kita ubah. Selama ini, Moskow selalu dipersepsikan sebagai negara komunis, padahal sekarang tidak. Persepsi tentang Rusia pokoknya selalu buruk selama ini. Padahal Moskow kota moderen yang indah," kata Djauhari kepada beberapa pimpinan media massa dalam pertemuan di KBRI Moskow, Rabu (4/7/2012). Beberapa pimpinan media Indonesia berada di Moskow untuk menghadiri pertemuan pimpinan media seluruh dunia - World Media Summit II - yang digelar 4-8 Juli di World Trade Center Moskow.
Dari sisi politik, terpilihnya kembali Vladimir Putin sebagai presiden Rusia pada tahun 2012 ini juga membawa angin segar bagi Rusia. Meski ada sebagian warga Rusia yang menilai pemilu berlangsung curang, namun Putin bisa menjawab suara miring itu. Puluhan ribu CCTV telah disebar di tiap-tiap TPS (tempat pemungutan suara) untuk menghindari tudingan itu saat Pemilu lalu. "Diberitakan media barat ada demo besar-besaran di sini, tapi ternyata demo hanya ratusan orang saja," ujar Djauhari.
Pengubahan persepsi tentang Rusia, kata Djauhari, penting untuk hubungan Indonesia dan Rusia ke depan. Saat ini Indonesia terus menggenjot komunikasi dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral dengan Rusia. Sebab Rusia merupakan negara terbesar di dunia, kaya sumber alam, menguasai teknologi tinggi untuk industri-industri strategis, dan memiliki populasi yang cukup besar sekitar 140 juta jiwa.
Ekspor Indonesia ke Rusia meningkat setiap tahun, meski belum besar. Tahun 2011 lalu, nilai ekspor Indonesia ke Rusia sekitar US$ 2,5 miliar. Komoditi terbesar yang diekspor ke Rusia adalah furnitur dan sawit. "Tahun 2015 nanti, kami menargetkan nilai ekspor kita ke Rusia sudah mencapai US$ 5 miliar," ujar dia.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat berkunjung ke Moskow beberapa hari lalu juga sudah menandatangani MoU antara Indonesia dan Rusia dalam pembangunan kereta api di Kalimantan. Juga sudah dibicarakan mengenai rencana-rencana untuk bekerja sama dalam bidang bisnis. "Misalnya, karena Rusia ini merupakan produsen gandum yang besar, ada pembicaraan bagaimana kalau Indonesia membangun pabrik mie instan di Rusia. Sebab kebutuhan mie instan di Rusia ini sangat tinggi," ujar Djauhari.
(asy/nrl)











































