Keluhan ini disampaikan seorang dokter gigi Puskesmas Kawangu kepada Presiden SBY yang datang meninjau, Rabu (4/7/2012). Daya listrik untuk kompleks puskesmas yang memiliki ruang bersalin, poli gigi dan laboratorium medis itu, hanya 1300 watts.
"Kalau kita sedang bor gigi, alat yang lain jadi terganggu sebab listriknya nggak kuat Pak," ujar dokter muda itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Usahakan puskesmas dan rumah sakit tidak terhenti dan terganggu gara-gara kurang listrik, carikan solusinya," ujar SBY.
Keluhan serupa juga disampaikan Mundu (43) kepada Presiden SBY yang tiba-tiba saja berkunjung ke rumahnya di Wombatu, Sumba Timur, NTT. Mundu adalah salah seorang transmigran lokal yang tinggal di padang savana tersebut.
Listrik untuk warga di pemukiman transmigran lokal itu dipasok oleh pembangkit tenaga surya. Namun panel yang dipasang di atap rumah warga tidak cukup kuat sehingga pada saat hujan bahkan mendung, listrik pun padam.
"Kalau hujannya lama, tidak ada listrik lama. Bisa sampai malam," ujar peternak sapi dan babi ini.
Dia juga mengeluhkan minimnya ketersediaan air bersih. Lahan pemukimannya sangat minim air bersih sementara sumber yang ada terlalu jauh.
Dampaknya, fasilitas kamar mandi rumah transmigran terbengkalai. Karena hal tersebut, warga memilih untuk buang air di tengah padang agar persediaan air bersih yang dimiliki cukup untuk keperluan konsumsi.
"Nanti kita bantu buatkan MCK umum, mungkin satu unit untuk dipakai beberapa KK sekaligus," tanggap SBY.
Presiden SBY juga menugaskan Menteri PU Djoko Kirmanto untuk memastikan ada sumber air yang bisa mendukung pemukiman itu. Termasuk perairan untuk lahan peternakan di sana.
(lh/tor)
