Pengambilan sampel dilakukan oleh tim dari Centre for Orangutan Protection (COP) bekerja sama dengan Perusda TSTJ, Selasa (3/7/2012).
Dirut Perusda TSTJ, Lilik Kristianto, mengatakan pihaknya memang berusaha untuk mealukan peningkatan tata kelola konservasi terhadap hewan-hewan koleksi kebun binatang yang dikelolanya. Khusus untuk penanganan orangutan, pihaknya menggandeng COP yang memang telah menawarkan diri untuk menawarkan diri untuk ikut memantau kehidupan empat orangutan di TSTJ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Eksitu Staff COP, Daniek Hendarto, menegaskan pemeriksaan utama yang dilakukan dalam tes kesehatan adalah untuk mengetahui penyakit-penyakit berbahaya yang bisa menular kepada pengunjung. Pemeriksaan terutama untuk mengetahui adanya penyakit hepatitis dan TBC yang bisa menular kepada pengunjung. Jika memang ditemukan kedua penyakit itu maka hewan tersebut harus dikarantina hingga sembuh.
Empat orangutan koleksi TSTJ berada di dua tempat, yaitu sepasang orangutan bernama Didik dan Tori yang berada di area koleksi kebun binatang. Sedangkan dua lainnya yaitu sepasang lainnya yang bernama Doni dan Yeti masih berada di ruang karantina karena masih belum lama dititipkan oleh BKSDA ke TSTJ yang merupakan hasil sitaan BKSDA.
Pengambilan sampel darah terhadap keempat hewan tersebut dilakukan dengan terlebih dulu dilakukan pembiusan. Menurut Daniek, tanpa dilakukan pembiusan hewan-hewan tersebut akan melawan dan mungkin akan membahayakan petugas. "Kekuatan satu tangan orangutan dewasa setara dengan kekuatan tangan enam atlet terlatih. Tadi saja jam tangan petugas kami rusak karena ditarik saat akan melakukan upaya pembiusan," paparnya.
(mbr/trw)











































