Teknisi Siemens Jerman & Belanda Juga Pernah Tewas di Irak
Senin, 23 Agu 2004 13:17 WIB
Jakarta - Warga Indonesia, yang disebut-sebut bernama Fahmi Ahmad dan karyawan PT Siemens Indonesia, tewas dalam serangan di Irak. Sebelumnya, karyawan Siemens dari Jerman dan Belanda juga pernah tewas di sana. Selama ini, Siemens memang memiliki sejumlah kontrak kerja di Irak. Awal tahun ini, perusahaan raksasa Jerman itu memenangkan tender senilai US$ 8,6 juta untuk menyediakan peralatan bagi operator mobile Asia Cell guna mengembangkan jaringan GSM di Irak utara.Pada Juni 2004 lalu, seperti dilansir AFP, Senin (23/8/2004), Siemens menarik semua pegawai warga Jerman dari Irak karena alasan keamanan. Ini terkait dengan serangkaian aksi kekerasan di negeri bekas rezim Saddam Hussein itu. Penarikan pekerja ini mendorong penundaan sejumlah rekonstruksi di Irak oleh perusahaan ternama tersebut.Salah satu proyek yang terkena dampaknya adalah perbaikan generator-generator di sebuah pembangkit listrik di Baghdad selatan. Seperti diungkapkan Menteri Kelistrikan Irak Ayham al-Samarei seperti dilansir HoustonChronicle.com, Kamis (22/4/2004) lalu, Siemens telah menghentikan operasinya di Irak. Namun tidak semua operasi dihentikan. Seperti proyek pengembangan jaringan GSM di Irak utara tetap dilanjutkan.Dikatakan al-Samarei, Siemens memulangkan pekerja Jerman-nya setelah Menteri Luar Negeri Jerman mengeluarkan peringatan pada 12 April lalu bahwa warga negara Jerman sebaiknya meninggalkan Irak.Tahun lalu, Siemens memenangkan kontrak sebesar US$ 95 juta untuk menyediakan turbin gas baru 266 megawatt. Perusahaan itu juga disubkontrak oleh perusahaan AS, Bechtel untuk merehabilitasi pembangkit listrik Dora di Baghdad. Siemens juga mengerjakan proyek listrik di Mussayab, 45 mil sebelah selatan Baghdad.Bulan Maret lalu, seorang pekerja Siemens warga Jerman dan warga Belanda terbunuh dalam aksi penembakan di dekat Mussayab. Juru bicara Siemens, Andreas Fischer menolak menyebutkan berapa banyak pegawai Siemens yang telah menjadi korban di Irak. Namun ditegaskannya perusahaan yang berbasis di Munich, Jerman itu masih berkomitmen untuk melanjutkan operasinya di Irak."Kami masih berkomitmen untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur, dan juga niat kami untuk terus bekerja selama kami bisa memastikan keselamatan pegawai kami di Irak," tukas Fischer.
(asy/)











































