"Seminggu kami melayani Ternate-Morotai 3 kali, Senin, Rabu dan Jumat," kata pramugari, Fitri (22) kepada rombongan Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra), Senin (2/7/2012).
Begitu menjejakkan kaki di bumi Morotai, aroma perawan pulau masih terasa. Bandara yang fungsi utamanya sebagai pangkalan militer ini masih sangat sederhana. Dari landasan pacu menuju terminal bandara lewat jalan aspal berbatu. Gedung terminalnya hanya sebuah bangunan seukuran balai desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlahan kendaraan mulai membelah pulau yang berada paling ujung terluar Kepulauan Maluku ini. Sepanjang perjalanan, aspal mulus membelah kawasan pesisir pantai. Sepanjang jalan pula, Morotai mulai bersolek seperti memperlebar jalan, membuat taman jalan, memasang lampu jalan hingga berbagai proyek utama untuk pesta Morotai Sail 2012.
Pengunjung akan disapa puluhan pohon kelapa yang tumbuh liar di kanan-kiri jalan. Di atas lahan tersebut kini mulai dibangun gedung museum Perang Dunia II, gedung Kerajinan Tangan hingga lapangan utama yang menghadap langsung ke laut. Di lapangan utama seukuran lapangan bola ini akan dijadikan pusat Morotai Sail.
Tak sampai 10 menit, kendaraan pun memasuki jantung kota. Ditandai sebuah gedung kantor Bupati Morotai, kantor sederhana 2 lantai. Dibanding Jakarta, kantor bupati ini masih kalah bagus dari kantor Kecamatan di Jakarta.
"Saya senang nanti ada Morotai Sail, semoga pulau ini jadi dikenal di dunia Internasional," kata Ahmad, seorang penjual ikan.
(rvk/asp)











































