Para koruptor itu ternyata senang membuat kode dengan buah-buahan, mungkin karena mereka ingin hidup 'sehat' dengan melahap 'buah-buahan' itu. Tidak heran beberapa kata sandi mengambil nama buah-buahan. Berikut ini sandi yang digunakan para koruptor dari berbagai kasus:
1. Apel
|
|
Dalam persidangan Rosa, kedua istilah itu kembali terucap. Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis, saat bersaksi di Pengadilan Tipikor (10/8/2011) lalu juga menjelaskan istilah 'apel malang'.
Dalam percakapan BBM dengan Rosa, Angelina Sondakh menyebutkan istilah itu. "Soalnya, aku diminta 'ketua besar', lagi kepengin 'apel malang," ujar Angelina dalam percakapan dengan Rosa. Angelina juga menyebut Koster -- diduga I Wayan Koster -- meminta 'apel Malang' juga.
Menurut Yulianis, istilah apel-apel ini dipopulerkan oleh Nazaruddin. "Apel malang bisa diartikan uang lokal, dan apel washington uang dollar," kata Nazar dalam transkrip percakapan BBM-nya.
2. Semangka
|
|
"Ada seperti apel malang, apel washington, pelumas, semangka," kata Rosa.
Rosa mengatakan artinya ketika ditanya oleh salah satu hakim persidangan yang dipimpin hakim Dharmawati Ningsih di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2012).
"Semangka?" tanya hakim.
"Rupiah," jawab Rosa.
3. Durian
|
|
Saat menangkap Sesditjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2TK) Kemenakertrans I Nyoman Suisanaya, KPK menemukan barang bukti kardus bekas durian berisi uang Rp 1,5 miliar di ruangan lantai 2 gedung Kemenakertrans, Jl Kalibata, Jaksel, Kamis (25/8/2011).
Kardus itu dibawa oleh seorang pegawai Kemenakertrans berinisial S siang harinya dari sebuah bank. Uang tersebut berasal dari rekening milik pengusaha Dharnawati.
"S beli durian, lalu isinya dikeluarkan. Karena terlalu banyak, uangnya dimasukkan dalam kardus bekas durian itu," kata juru bicara KPK Johan Budi SP di Gedung KPK.
Nah, bukan kali ini saja durian jadi barang yang identik dengan uang terima kasih. Saat kasus Cicak vs Buaya mencuat tahun 2009, penggunaan istilah durian untuk uang suap sempat membuat heboh.
Dalam rekaman percakapan penyadapan antara Anggodo Widjojo dan Ong Yuliana Gunawan, nama mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga disebut-sebut menerima kiriman durian dari Yuliana. Ada yang menduga durian itu adalah uang terima kasih untuk Ritonga karena membantu Anggodo.
Namun jaksa agung saat itu, Hendarman Supandji membantahnya. Menurut dia, durian yang dikirimkan Ong Yuliana Gunawan kepada Abdul Hakim Ritonga, bukan kata sandi untuk menyebut uang, namun benar-benar buah durian yang kulitnya tajam namun buahnya manis.
"Itu durian beneran Pak," jawab Hendarman menjawab pertanyaan legislator Komisi Hukum DPR. "Beliau (Ritonga) senang durian. Saya kira semua laki-laki juga suka durian," belanya.
4. Pelumas
|
|
"Kalau pelumas?" tanya hakim yang diketuai Dharmawati Ningsih di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2012).
"Uang," jawab Rosa.
5. Ketua Besar
|
|
Namun, Rosa mengaku tidak tahu siapa si 'Ketua Besar' yang dimaksud oleh mantan Puteri Indonesia tersebut. "Waktu itu tahu tidak 'Ketua Besar' siapa? "Saya nggak tahu, dan saya nggak tanya lewat BBM," jawab Rosa.
6. Pak Lurah
|
|
Dalam percakapan itu Nazaruddin bercerita soal aktivitas selama lebaran. Setiap tahun selalu bergantian merayakan lebaran. Pastinya dia selalu mengunjungi keluarganya di Bangun, Sumut dan juga Pekanbaru keluarga istrinya.
"Tentu juga di Jakarta, ke rumah Pak Lurah," kata Nazaruddin dengan tawa.
Soal kata Pak Lurah, klaim Nazaruddin dalam perbincangan dalam rekaman itu, dia mengaku sosok tersebut menginginkan Nazaruddin menghadapi proses hukum, tanpa mengganggu orang lain.
"Kepingin Pak Lurah itu," ucap Nazaruddin.
Nazaruddin kembali menyinggung soal Pak Lurah saat berbicara mengenai kongres PD di Bandung pada 2010 lalu. Dengan enteng dia menyebut kekalahan seorang calon karena terlalu mengandalkan iklan, bukan mendekati DPC.
"DPC emang makan iklan. Ditakuti-takutin juga soal Pak Lurah. DPC itu ada uang ada angka," terang Nazaruddin dengan tawa.
7. Kebugaran
|
|
"Itu semua proyek di Kemenpora ada istilah 'kebugaran', itu maksudnya apa?" tanya Rufinus pada Rosa saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2012).
"Itu maksudnya Pak Wafid (Wafid Muharam, eks Sekretaris Kemenpora)," kata Rosa.
Kata 'kebugaran' dan 'Gambir' terkuak dalam komunikasi Rosa saat menjabat Direktur Pemasaran PT Anak Negeri dan Muhammad Nazaruddin pada 22 Juli 2010. Bunyinya antara lain:
"Pagi, Bapak. Hari ini bisa ketemu orang kebugaran, ya, Bapak? Jamnya sehabis Magrib di Senayan City."
"Saya lagi menuju Gambir habis dari olahraga, Pak."
8. Penyanyi
|
|
"Itu Pak Paul Newan dan Paulus Iwo. Mereka bilangnya proyek yang Senayan ke sana dibilang 'kebugaran' saja. Saya juga dipanggilnya bukan Rosa tapi 'si penyanyi'," jawab Rosa. Tak urung, pengakuan Rosa disambut tawa pengunjung sidang.
9. Maktab
|
|
Istilah-istilah itu digunakan untuk berbagai keperluan, seperti melakukan pertemuan tersembunyi, pemberitahuan adanya proyek dan juga mengenai imbalan.
"Mereka menggunakan bahasa-bahasa Arab seperti Toyyib (baik) dan Maktab (tempat atau pemondokan). Menyelidiki kasus ini, kita benar-benar dibuat mengelus dada," ujar salah seorang pejabat KPK yang menangani kasus ini.
Pejabat ini mengambil kesimpulan, istilah-istilah yang digunakan para 'pemain' terkait dengan lingkungan mereka. Istilah bahasa Arab muncul karena lingkungan mereka ada di Kemenag dan Komisi VIII yang membidangi agama.
"Kalau wisma atlet itu sepertinya mereka memang biasa makan buah-buahan," ujarnya setengah berkelakar.
Halaman 2 dari 10











































