Pilihan SBY-Kalla untuk Gaet Koalisi Parpol Makin Sempit
Senin, 23 Agu 2004 10:19 WIB
Jakarta -
Bila koalisi parpol pendukung Mega-Hasyim sudah meraksasa, beda halnya dengan SBY-Kalla. Bahkan, peluang SBY-Kalla untuk menggaet parpol untuk berkoalisi mendukungnya, pilihannya makin sempit saja. Koalisi Kebangsaan yang merupakan pendukung Mega-Hasyim sudah mengikat tiga parpol besar dan satu parpol menengah. Keempat parpol ini, PDIP, Partai Golkar, PPP, dan PDS ini telah dideklarasikan pada Rabu (18/8/2004) lalu. Bahkan keanggotaan koalisi ini semakin membuncit saja. Tiga parpol menengah telah memutuskan untuk ikut koalisi ini, yaitu PBR, PNI Marhaenisme, dan PKPB. Dengan beranggotakan 7 parpol ini, maka kekuatan koalisi ini di parlemen boleh dibilang meraksasa. Kekuatan ini bisa membesar lagi, karena koalisi masih membuka kesempatan parpol lain untuk bergabung. Dengan dukungan enam parpol ini, koalisi pendukung Mega-Hasyim memiliki 324 kursi di DPR. Jumlah ini terdiri dari Golkar 127 kursi, PDIP 109 kursi, PPP 58 kursi, PBR 14 kursi, PDS 13, PNI Marhaenisme 1 kursi, dan PKPB 2 kursi. Dengan demikian, mereka sudah menguasai 58,9 persen kursi DPR. Otomatis, dengan bergabungnya tujuh parpol sebagai pendukung Mega-Hasyim ini, maka pilihan SBY-Kalla untuk menggaet sejumlah parpol untuk berkoalisi makin sedikit. Saat ini, masih tersisa sejumlah parpol dengan kekuatan yang cukup signifikan yang belum menentukan keputusannya, yang masih bisa dijadikan pilihan bagi SBY-Kalla. Mereka adalah PKB yang meraih 52 kursi di DPR, PAN peraih 53 kursi di DPR, dan PKS peraih 45 kursi di DPR. Jumlah total kursi di parlemen tiga parpol ini 150 kursi DPR. Saat ini, SBY-Kalla baru mendapat dukungan resmi dari tiga parpol, yaitu Partai Demokrat yang memiliki 56 kursi di DPR, PBB yang memiliki 11 kursi di DPR, dan PKPI yang memiliki 1 kursi di DPR. Total, SBY-Kalla untuk sementara hanya memiliki 68 kursi di DPR. SBY-Kalla sebenarnya berharap PBR mau mendukungnya. Tapi, dalam Rapim Jumat (20/8/2004) lalu, PBR lebih memilih mendukung Mega-Hasyim. Ketiga parpol cukup besar yang sampai sekarang belum menentukan pilihan ini, PKB, PAN, dan PKS ini sebenarnya memiliki kemungkinan untuk bergabung dengan SBY-Kalla. Namun, SBY-Kalla tampaknya harus mengeluarkan energi eksta untuk melakukan pendekatan kepada mereka. Pasalnya, suara untuk lebih memilih netral di tiga parpol ini juga cukup kuat. PAN misalnya, seperti disampaikan Ketua DPP PAN Didik J Rachbini, tinggal memiliki dua pilihan, mendukung SBY-Kalla atau bersikap netral. Opsi untuk mendukung Mega-Hasyim tampaknya sudah tidak dilirik lagi. Sumber detikcom Senin (23/8/2004), para pengurus DPP PAN sebenarnya lebih condong untuk memiliki sikap netral. Pilihan ini merupakan pilihan yang bijak, di samping sebagai upaya mengkonsolidasikan partai berlambang matahari terbit ini. Namun, beberapa pengurus menginginkan PAN terlibat di pemerintahan. Mana yang dipilih PAN dari dua opsi ini, akan ditentukan pada 28 Agustus nanti. PKB juga masih menimbang-nimbang. Meski Wakil Ketua Umum DPP PKB Mahfud MD secara pribadi ingin PKB tetap netral, namun kabarnya sebagian besar pengurus ingin PKB terlibat di pemerintahan. Pilihannya, masih mendua, SBY atau Mega. Pendekatan terhadap kedua capres juga sama-sama gencar, termasuk Gus Dur yang dinilai juga turut menjadi faktor penentu. Akhir-akhir ini, Gus Dur sering bertemu SBY dan Mega. Sementara Ketua Umum PKB Alwi Shihab, tampaknya lebih condong untuk bergabung dengan SBY-Kalla. Berbagai pertemuan dengan SBY, juga telah dilakukan berulang kali oleh Alwi. Siapa yang dipilih PKB akan ditentukan 31 Agustus nanti. Sedangkan, PKS tampaknya lebih condong untuk mendukung SBY-Kalla. Untuk bersikap netral, suaranya lebih kecil dibanding untuk mendukung salah satu capres. Yang jelas, seperti disampaikan Ketua Umum DPP PKS Hidayat Nurwahid, PKS menginginkan perubahan dan tidak mungkin golput. Dilihat dari hal ini, banyak pihak yang menilai PKS akan lebih mendukung SBY-Kalla. Tapi, keputusan pastinya baru akan ditentukan pada akhir pekan ini. SBY-Kalla sendiri sebenarnya tidak menganggap koalisi parpol ini sebagai sesuatu yang istimewa, meski menganggapnya sebagai hal yang penting. SBY-Kalla lebih ingin melakukan komunikasi langsung dengan rakyat, karena rakyatlah yang akan menentukan pilihan, bukan elit parpol. Bila dilakukan koalisi, SBY-Kalla akan melakukannya setelah pilpres putaran kedua usai.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































