Gara-gara Iklan Perang, Perseteruan Bush & Kerry Memanas

Gara-gara Iklan Perang, Perseteruan Bush & Kerry Memanas

- detikNews
Sabtu, 21 Agu 2004 15:51 WIB
Jakarta - Perseteruan Presiden AS George W Bush dan rival kepresidenannya, John Kerry kian memanas. Biang perdebatan adalah iklan televisi yang dibuat sebuah kelompok veteran perang Vietnam, yang menamakan diri Veteran Kapal Cepat untuk Kebenaran (Swift Boat Veterans for Truth).Iklan tersebut sangat memojokkan Kerry karena berisi tuduhan bahwa kandidat presiden Demokrat itu berbohong soal reputasinya dalam Perang Vietnam. Kini, Jumat (20/8/2004) waktu setempat atau Sabtu (21/8/2004) WIB, Kerry meminta Komisi Pemilihan Federal untuk memaksa kelompok veteran perang Vietnam itu menarik iklannya.Demikian seperti diberitakan kantor berita Reuters, Sabtu (21/8/2004). Kerry menuding Bush menggunakan kelompok veteran tersebut untuk melakukan "pekerjaan kotor" guna menyerang reputasinya di medan tempur. Padahal dalam kampanyenya, Kerry kerap menyebutkan pengalaman perangnya saat menyampaikan program keamanan nasional yang akan dijalankannya. Senator itu meraih lima medali penghargaan sebagai komandan kapal tempur dalam perang Vietnam.Tim kampanye Kerry menuduh kelompok Swift Boat melanggar "hukum dengan iklan yang tidak akurat yang secara ilegal dikoordinasikan dengan kampanye kepresidenan Bush-Cheney dan Komite Nasional Republik."Menurut Kerry kelompok itu menerima dana hingga ratusan ribu dollar AS dari seorang penyandang dana Partai Republik di Texas, negara bagian asal Bush.Namun kubu Bush membantah keterlibatan pihaknya dalam iklan kontroversial itu. Juru bicara kampanye Bush, Scott Stanzel membantah adanya koordinasi dengan kelompok veteran perang tersebut. Menurutnya, tuduhan itu merupakan "komplain yang dangkal."Bantahan juga disampaikan Juru bicara Gedung Putih Scott McClellan. Menurutnya, Kerry sangat marah atas iklan kampanye tersebut sehingga, "Dirinya yang kehilangan ketenangannya seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menyerang presiden secara keliru," ujar McClellan. (ita/)


Berita Terkait