Sarwono: Koalisi Kebangsaan Lebih Untungkan Golkar
Sabtu, 21 Agu 2004 15:42 WIB
Jakarta -
Mantan Sekjen DPP Golongan Karya Sarwono Kusumaatmadja menilai Koalisi Kebangsaan lebih menguntungkan Partai Golkar yang akan berperan dalam rumusan kebijakan dan lebih berperan di parlemen."Ya, artinya kalau Mega menang tentunya berterima kasih kepada Golkar.Kemudian karena sumber daya manusia Golkar lebih baik dari PDIP, tentunya mereka akan berperan dalam rumusan kebijakan dan lebih berperan di parlemen.Kalau SBY menang, dia juga akan negosiasi dengan Golkar karena tidak ada perbedaan ideologi dan program. Jangan lupa Jusuf Kalla warga Golkar," ungkap Sarwono Kusumaatmadja di Hotel Manara Paninsula, Jalan S Parman, Slipi, Jakarta Barat, Sabtu (21/8/2004).Namun, kata dia, Koalisi PDIP dan Golkar tidak akan maksimal mengingat keduanya tidak memiliki pengalaman kerja sama."Koalisi memang sesuatu yang harus mereka lakukan sebagai pemilik mesin. Mesinnya dikumpulin syukur-syukur jalan. Tetapi, menurut saya efektivitas mesin tidak bisa maksimal karena tidak pernah punya pengalaman kerja sama," ujar Sarwono yang juga mantan Menteri Eksplorasi Kelautan ini.Menurut Sarwono, Koalisi Kebangsaan tidak akan permanen. "Saya rasa koalisi permanen yang strategis adalah koalisi dari orang-orang dan bukan partai yang punya komitmen demokrasi. Jadi harus dibedakan koalisi ini gejala menuju pilpres saja, mungkin nantinya akan ada koalisi lagi setelah pilpres. yang punya sasaran jangka panjang dan anggotanya tersebar dimana-mana," kata Sarwono.Apakah PKB akan masuk koalisi?"Teman-teman di PKB tidak punya game plan yang jelas karena sangat tergantung dengan apa yang dikatakan Gus Dur sehingga mereka kagok gitu lo. Berbeda dengan Golkar, memang dia sekarang ikut Koalisi Kebangsaan tetapi nanti setelah pilpres dia akan lihat siapa yang menang dan akan rumuskan kembali sikapnya dalam rangka jangka panjang.Makanya, saya bilang yang diuntungkan adalah Golkar," tuturnya.Menghadapi hal itu, lanjutnya, PDIP memerlukan regenerasi. "Artinya, generasi Heri Akhmadi harus kita dorong supaya berperan diposisi puncak karena generasi sekarang masih didominasi oleh nasionalis generasi tahun 60-an. Tetapi sudah ada pengaruh dari generasi PDIP yang diwakili orang yang pernah di Golkar," demikian Sarwono.
(aan/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































