Ya, Suripno pernah tertembak saat bertugas menjaga wilayahnya. Sebutir peluru yang ditembakkan Hendri, bandar narkoba yang disergap polisi, menembus ketiak Suripno, Senin (4/6) lalu.
Meski honor yang ia dapat tidak sebanding dengan resiko pekerjaannya, Suripno tetap ikhlas menjalankan tugas mulianya. Tak sedikit pula warga yang tidak menghargai tugasnya sebagai hansip.
"Masyarakat selalu menghina kita, oh hansip. Tetapi sekarang, saya tunjukkan nih hansip, nih yang ketembak," kata Suripno.
Sebagai petugas Hansip yang sudah mengabdi selama 25 tahun, Suripno tidak pernah mendapat penghargaan dari warga sekitar. Dalam satu bulan, Suripno hanya diberi Rp 5 ribu dari per kepala keluarga di RW 02 Jalan Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
"Masyarakat cuma bayar kita per pintu Rp 5 ribu. Rp 5 ribu dapat apa, indomie, buat apa," ujarnya.
Ia menyadari tugas yang dibebankan kepadanya begitu berat. Untuk menjaga RW 02, dia hanya dibantu oleh seorang temannya.
"Tugas kita sebagai keamanan wilayah, kalau menjaga satu atau dua toko mungkin bisa antisipasi. Tapi saya pegang wilayah di RW 02, ada 16 RT Jl Kartini, Jakarta Pusat dan hanya 2 anggota Linmas," katanya.
Meski ia berupaya untuk mengamankan lingkungan, masyarakat tetap menyalahkannya bila terjadi kejahatan di lingkungannya.
"Itu kan kadang masyarakat yang mengecap kita hansip payah kalau kehilangan motor. Kemarin begitu ketembak, saya tunjukkin nih hansip yang payah, ada asuransi nggak, saya gituin," jelasnya.
Masyarakat mungkin hanya memandangnya sebelah mata. Namun, atas jasanya dalam membantu polisi menangkap bandar narkoba, Suripno diberi penghargaan. Ya, hari ini, bersama dengan 127 reserse Polda Metro Jaya, Suripno mendapat penghargaan dari Kapolda Metro Jaya Irjen Untung S Rajab atas jasanya itu.
"Saya senang karena diperhatikan. Selama 25 tahun bertugas, baru ini terima penghargaan," tuturnya, Rabu (27/6/2012).
Aksi heroik diperlihatkan Suripno, seorang Hansip. Dia mengejar dan menangkap bandar narkoba, Hendri, dengan tangan kosong. Meski untuk itu dia terkena timah panas.
Kisah ini bermula saat Hendri dikejar-kejar polisi. Suripno yang melihat aksi kejar-kejaran itu, spontan ikut membantu polisi. Ketika akan dilakukan penangkapan, tersangka Hendri keluarkan tembakan 3 kali ke anggota. Satu tembakan mengenai hansip Suripno, mengenai ketiaknya.
Saat itu, polisi hendak menangkap Hendri di kos-kosannya di Jl Kartini, Jakarta Pusat. Suripno memang sedang berada di lokasi. Suripno mendengar ada suara teriakan polisi 'tangkap, tangkap!'. Suripno lantas melihat ada seorang laki-laki yang melompat ke dalam bajaj.
Kaki Hendri saat itu masih menjuntai di luar bajaj. Sehingga Suripno menarik kakinya. Lalu tersangka berteriak 'apaan sih lu, nanti gue tembak lu'. Ucapan Hendri bukan sekadar ancaman. Hendri mengeluarkan senjata api dan menembak bagian bawah ketiak Suripno yang masih saja memegangi kaki Hendri.
Untunglah belum sempat Hendri melarikan diri, polisi berhasil membekuknya. Sementara Suripno langsung dilarikan ke RS Husada. Dari tangan Hendri, polisi menyita 11 gram sabu dan 100 butir ekstasi, pistol SIG Shuer, berikut magazin 5 butir peluru.
(mei/rmd)











































