"Karena itu kami harap semuanya didukung, karena kita benar-benar membutuhkan industri pertahanan yang lebih baik. Kita ingin tentara profesional, alutsista bisa disediakan di dalan negeri, sehingga tentara tidak usah terlibat beli-membeli senjata," kata Wakil Ketua Komisi I DPR yang juga Ketua Panja Industri Pertahanan, TB Hasanuddin, kepada detikcom, Rabu (27/6/2012).
Menurut Hasanuddin, Komisi I perlu mempelajari banyak hal soal industri pertahanan di negara yang sudah maju. Untuk kemudian diterapkan di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sejumlah negara yang dikunjungi, menurut Hasanuddin, pemerintah sudah mengorganisir dengan baik industri pertahanan. Panja ingin mempelajari bagaimana peran Bank baik swasta maupun pemerintah dalam sistem pendanannya.
"Juga bagaimana pengembangannya, universitas dan tenaga ahli dalam pengembangan alutsista kemudian hasilnya bisa dipakai di dalam dan luar negeri. Kita pelajari tarif, bea dan fiskal industri alutsista ke depan. Kita akan mencari agar masalah teknis dan marketing. Kemudian bagaimana teknik merekrut putra-putri terbaik di dalam dan luar negeri untuk memajukan industri pertahanan kita. Kemudian cara mengatasi kriminalisasi dalam industri pertahanan," paparnya.
Ada beberapa negara yang menjadi acuan. Ada benar-benar milik negara misalnya Rusia, tapi ada juga yang memberikan kesempatan swasta mengembangkan industri pertahanan.
"Atas dasar itu kami melihat beberapa tujuan. Kita semua sepakat akan berangkat ke Brazil dan Spanyol. Ke Brazil sebagai negara papan tengah telah memajukan industri strategisnya. Sementara Spanyol punya tradisi lama membuat alutsista. Mampu membuat alutsista canggih skala besar dan bekerjasama dengan negara lain di Eropa," katanya.
(van/ndr)











































