Becak Komplit, di Sinilah PSK & Hidung Belang Jakarta Pernah Beraksi

Becak Komplit, di Sinilah PSK & Hidung Belang Jakarta Pernah Beraksi

- detikNews
Selasa, 26 Jun 2012 17:26 WIB
Becak Komplit, di Sinilah PSK & Hidung Belang Jakarta Pernah Beraksi
becak/wikipedia
Jakarta -

Pada 1950-an becak merupakan salah satu 'primadona' transportasi di Jakarta. Saking merakyatnya, becak pun dijadikan lahan bagi pekerja seks komersial (PSK). Bersama pria hidung belang, kupu-kupu malam beraksi di dalam becak. Di masa itu, becak semacam itu disebut sebagai 'becak komplit'.

Firman Lubis dalam buku 'Jakarta 1950-an, Kenangan Semasa Remaja' menyinggung soal 'becak komplit' ini. Becak tersebut dinaiki oleh seorang perempuan tuna susila dan pelanggannya. Di atas becak itu mereka melakukan kegiatan seks. Agar tidak kelihatan orang, becak ditutupi dengan kain dan sengaja diposisikan di tempat yang gelap.

Jumlah becak di Jakarta pada tahun 1950-an memang banyak. Firman Lubis menyebut sekitar 25 ribu becak terdapat di Ibukota pada 1951. Sedangkan menurut sejarawan Susan Abeyasekere dalam bukunya, 'Jakarta: A History', pada tahun 1970 terdapat 92.650 becak yang terdaftar di Jakarta. Diperkirakan jika dijumlah dengan becak yang tidak terdaftar, maka angkanya bisa mencapai 150 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga sewa yang relatif murah membuat kendaraan ini begitu akrab dengan warga. Banyak pengayuh becak ini berasal dari luar Jakarta. Jauh-jauh ke Ibukota mereka bekerja keras mengayuh becak. Umumnya, para penarik becak ini hanyalah buruh yang bekerja pada pengusaha becak, sehingga pendapatannya pun pas-pasan. Mengutip ucapan Firman Lubis, tukang becak merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat bawah.

Saking banyaknya becak di Jakarta, tak jarang alat transportasi beroda tiga ini dilibatkan dalam festival dan perayaan lainnya. Misalnya saja dalam perayaan HUT Kemerdekaan tiap 17 Agustus, becak dihias dan berpawai keliling Jakarta. Menjelang Pemilu 1955 pun becak diberdayakan untuk keperluan kampanye.

Di malam tahun baru atau takbiran, becak laris manis disewa kawula muda yang hendak putar-putar Jakarta semalam suntuk. Tak hanya mengangkut orang, becak juga dikerahkan untuk membawa beduk yang ditabuh sepanjang jalan.

Saking akrabnya dengan warga, becak turut berpartisipasi di acara sunatan ataupun sebagai kendaraan pengiring di acara pernikahan. Bagi si abang becak, tentu kendaraan itu menjadi kebanggan tersendiri. Tak heran becak kerap dicat warna-warni dan diberi tulisan-tulisan menarik. Ini mengingatkan bagian belakang truk yang kadang diberi gambar dan tulisan.

Seorang pengayuh becak harus mengantongi rebewes (bahasa Belanda: rijbewijs, semacam surat izin mengemudi). Ujian untuk mendaparkan rebewes dilakukan di Hopbiro di Jalan Medan Merdeka Barat. Selain harus menjawab pertanyaan, para pengayuh becak juga harus menjalani ujian praktik.

Namun seiring semakin padatnya jalan Ibukota dengan kendaraan lain, becak pun perlahan tersingkir. Karena jalannya yang lamban, becak dinilai bisa mengganggu lalu lintas perkotaan. Pada 1980-an becak kemudian dilarang beroperasi di Jakarta. Alasannya becak dinilai sebagai alat transportasi yang mengeksploitasi manusia atas manusia.

Kemudian dikembangkanlah alat transportasi model becak seperti becak motor, helicak dan bajaj. Namun bajaj merupakan pengganti becak yang paling 'merajai' Jakarta. Apalagi kebanyakan tukang becak lantas memilih menjadi sopir bajaj.

Bajaj sebenarnya merupakan merek perusahaan otomotif di India, yakni Bajaj Auto. Kendaraan ini pun diketahui berasal dari India. Suara bajaj memang mememekakkan telinga, namun karena bentuknya yang mini bisa diandalkan saat menerobos kemacetan jalanan. Agar ramah lingkungan, bajaj berbahan bakar gas pun telah dikembangkan. Pada saat menjelang Lebaran, terkadang sopir bajaj bahkan menggunakannya sebagai kendaraan mudik bersama keluarga.

(/nwk)



Berita Terkait