"Ya itulah debat yang sesungguhnya, debat itu saling berargumen mengukuhkan pendapat dirinya dan mematahkan pendapat yang lain," ujar ketua KPU DKI Jakarta, Dahliah Umar, usai debat kandidat cagub dan cawagub DKI Jakarta, do Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, (24/6/2012).
Menurutya, para cagub dan cawagub justru harus membiasakan diri untuk berani menyatakan perbedaan pendapat itu secara terbuka. Daripada selalu menutup-nutupi padahal sebenarnya di antara itu ada masalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu soal akurasi data yang diutarakan oleh masin-masing calon sebagai 'senjata', KPU DKI mengembalikan itu pada tiap kandidat. KPU DKI hanya memfasilitasi, soal data dan fakta itu bekal masing-masing kandidat.
"Saya kira tadi kita bisa lihat semuanya ada kelemahan dan kekuatan masing-masing, tinggal kita menilai sebenarnya kecenderungan yang paling cocok buat Jakarta itu siapa. Itu biar warga DKI yang menilai,"
Sebelumnya dalam debat cagub dan cawagub DKI Jakarta, beberapa pasangan calon terlibat saling serang melalui pemaparan visi dan misi. Salah satunya adalah 'serangan' Cagub Hendardji Soepandji yang menyindir Foke bahwa Jakarta jangan lagi Berkumis (Berantakan, Kumuh dan Miskin). Hal itu ditanggapi Foke dengan menantang Hendardji mengeluarkan data soal fenomena Berkumis, yaitu data soal prevalensi DBD.
Bahkan, hingga menjelang akhir perdebatan, saling serang terjadi antara Cagub Alex Noerdin dan Fauzi Bowo. Foke mengingatkan bahwa masalah Jakarta tidak bisa selesai dalam waktu 1 atau 3 tahun, karena kompleksnya permasalahan ibukota. Merasa tersindir, Cagub asal Sumsel Alex Noerdin menjawab pernyataan itu dengan menyatakan bahwa Foke yang justru secara nyata mengingkari janji sebagai gubenur. "Dulu 5 tahun yang lalu ada yang berjanji tapi sampai sekarang tidak ditepati," sindir Alex Noerdin.
(mad/mad)











































