Prijanto mengibaratkan korupsi sama dengan dongeng 'Si Kancil'. Kancil juga suka menipu, sama seperti koruptor. Kecerdikan si kancil ini dianggap ditiru oleh para koruptor.
"Contoh pertama misalnya tender. Pengadaan barang A. Salah satu pelaku tender ini sahabatnya si panitia lelang. Jadi biasanya, si pelaku dia berani bayar dengan budget tertinggi. Hanya, si pelaku sudah tahu spesifikasi barang yang akan diadakan," ujar Priyanto.
Hal ini disampaikan Priyanto dalam acara "Sarasehan Jakarta: Kemana APBD DKI Mengalir?" di Jokowi Center, Jl Ki Mangunsarkoro 69, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/6/2012). Turut hadir sutradara film Hanung Bramantyo dan peneliti ICW, Apung Widadi, dalam acara itu.
Prijanto menambahkan sahabat pelaku yang juga panitia lelang itu pasti meloloskan tender karena barang yang diadakan sudah tersedia. Panitia tender kemudian mengeluarkan aturan dengan memberikan waktu sependek mungkin bagi peserta lelang lainnya untuk memproduksi barang.
"Tentu yang lain pada mundur, nggak sanggup. Sementara si sahabat kan barangnya kan sudah disiapkan di gudang. Kenapa berani mahal? Kan ada apel malang sama apel washington," canda Prijanto yang langsung disambut tepuk tangan peserta sarasehan.
Cara kedua, lanjut Prijanto, yakni dengan menghadirkan komponen yang sespesifik mungkin sehingga sulit untuk dipenuhi oleh para peserta lelang. Spesifikasi disesuaikan dengan barang yang sudah diproduksi si sahabat panitia tadi.
Cara ketiga adalah menciptakan proyek yang besar, beranggaran sangat tinggi, namun manfaatnya kecil.
"Saya ambil contoh, Hambalang yang katanya punya fasilitas lengkap, kenapa dipilih di sana? Masa orang Aceh harus olahraga di Hambalang?" kata dia.
Cara keempat, dengan menyediakan proyek asal-asalan, lalu membongkar pasang tiap tahun. Cara kelima, dengan menganggap uang rakyat sebagai uang pribadinya sehingga selalu meminta jatah.
Cara keenam, yaitu dengan mark-up anggaran. Sedangkan yang cara terakhir yakni dengan bermain kebijakan.
"Seperti penggusuran tanah. Wah itu sudah jahat banget pemerintah kalau gitu," jelasnya.
Prijanto juga menawarkan solusi untuk memberantas korupsi ini. Masalah moral menjadi prioritas utama dalam memecahkan masalah korupsi.
"Moral pemimpin, yaitu keberanian mengambil keputusan dan menegakkan aturan, lalu transparansi pembahasan APBD dari eksekutif dan legislatif, sistem kontrol yang ketat dan rotasi pejabat lelang secara rutin," bebernya
(/)











































