"Direncanakan tahun anggaran 2012 terancam defisit sebesar Rp 2,1 triliun. APBD DKI 2008-2011 lalu berada pada kondisi surplus, namun pada 2012 terjadi perencanaan defisit hinga mencapai minus 9 persen dari total belanja daerah," kata Direktur Resource Centre Seknas Fitra, Yenny Sucipto, dalam jumpa pers di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta, Minggu (24/6/2012).
Yenny menjelaskan ada perencanaan kenaikan pendapatan sebesar Rp 7 triliun di tahun anggaran 2012 yang berpotensi pada penggenjotan pajak. "Dan hal yang tidak ingin terulang adalah perencanaan TA 2011 karena over optimis untuk penggenjotan pajak, maka sektor nonformal diperdakan untuk wajib memberikan kontribusi kepada pendapatan asli daerah (PAD). Hal ini berpotensi pembebanan pada rakyat miskin," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibukota Jakarta, imbuh Yenny, dengan penduduk sebesar 9,6 juta jiwa terdapat angka kemiskinan 368,4 ribu jiwa. Selain itu persoalan kesehatan dan pendidikan masyarakat masih menjadi masalah yang tak kunjung tuntas.
"Kebijakan APBD DKI harus diakui masih belum memperhatikan aspirasi dan kebutuhan rakyat miskin. Keberhasilan pembangunan bukan terlihat dengan munculnya gedung pencakar langit. Tetapi bagaimana meningkatkan kesejahteraan," ucap Yenny.
"Keberpihakan anggaran sangat menentukan adanya perubahan dan perbaikan kualitas hidup rakyat," tambahnya.
Terkait analisa APBD DKI terancam defisit Rp 2,1 triliun, juru bicara Gubernur DKI Cucu Ahmad Kurnia tidak dapat berkomentar banyak. Sebab menurut dia, rilis yang disampaikan Fitra tidak detail. Namun menurutnya, APBD DKI di bawah Fauzi Bowo tidak pernah defisit.
"Kita nggak pernah defisit, selalu surplus. Apapun yang kita ajukan sesuai kemampuan. Dan itu atas persetujuan DPRD," ucap Cucu saat dikonfirmasi.
(vit/try)











































