"Segala hal yang kira-kira bisa mendapatkan uang, mungkin saja dilakukan," kata Sutarman di sela-sela acara pengobatan gratis Polri di RS Kramatjati, Jaktim, Sabtu (23/6/2012).
Saat ini, patut diduga, salah satu yang dilakukan pelaku teror dengan melakukan hacking. Walau masih sebatas pada dugaan, namun cara-cara itu sudah terindikasi.
"Kegiatan hacking model seperti itu sudah lama sekali, kita mempunyai kemampuan pelacakan di dunia maya," jelasnya.
Diketahui, aksi cyber crime menjadi modus baru kelompok teroris mendanai aksinya. Seperti dilakukan RG yang ditangkap Densus 88. Ahli IT ini membobol situs forex trading dan uang ratusan juta yang diperolehnya, di antaranya untuk membiayai pelatihan teroris di Poso dan membeli senjata api.
"Yang bersangkutan memberikan dukungan Rp 667 juta untuk pelatihan paramiliter di Poso," ungkap Kabag Penum Polri, Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (22/6).
Selain itu, RG yang ditahan sejak Mei lalu diketahui juga memberikan sokongan dana untuk pembelian senjata bagi kelompok teroris sebesar Rp 200 juta. Namun temuan ini masih diperlukan pendalaman lebih lanjut.
(/)











































