"Kita sunguh mendambakan kota sebagai civility, arena pertemuan berbagai perbedaan dalam kesetaraan tanpa rasa takut," kata Faisal saat bersilaturahmi dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).
Hal ini disampaikan Faisal dalam siaran pers kepada detikcom, Jumat (22/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga, setiap penduduk kota merupakan makhluk-makhluk atau orang-orang yang unggul, yang khas terbangun dalam suasana kebersamaan yang harmonis. Oleh karena itu, membangun Jakarta harus diarahkan pada keadaban publik, pembangunan sarana dan infrastruktur yang mempertemukan berbagai manusia dalam perbedaan secara nyaman," katanya.
Karena Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia, pembenahannya menjadi prioritas utama bagi Indonesia.
"Kalau Jakarta bisa dibenahi, dia akan jadi model buat semua kota di Indonesia. Itu cita-cita kita, harus mulai dari Jakarta, tidak bisa dari Kupang, Indramayu, Solo, Palembang ataupun wilayah lainnya. Oleh karena itu, ayo kita bangun kota ini," harapnya.
Menurut Faisal, yang terpenting dari program pembangunan itu adalah roh dan landasan berpikirnya.
"Untuk membangun kota, kita harus terlebih dulu membangun peradabannya. Keadaban ini merujuk pada suatu suasana di mana ruang publik merupakan arena yang bisa di-share bersama. Tidak ada satu jengkalpun ruang publik yang boleh dimonopoli oleh pihak tertentu,β tegas Faisal.
(van/van)











































