"Setiap hari ada saja orang yang pingsan akibat pendingin udara yang mati di kereta," kata moderator milis KRL Mania, Nurcahyo, kepada detikcom, Jumat (22/6/2012).
Nurcahyo mengatakan, KRL Commuter Line yang bertarif Rp 7.000 itu memiliki desain kereta AC. Semua bagian kereta ini tertutup, sehingga sangat pengap kalau AC mati. Belum lagi jumlah penumpang KRL ini yang selalu membeludak setiap harinya. KRL juga sering mengalami gangguan sehingga penumpang harus menunggu lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nurcahyo mengatakan, sebelumnya tarif KRL yang menggunakan AC adalah Rp 5.500 kemudian naik menjadi Rp 7.000. Saat tarifnya Rp 5.500, AC di kereta justru lebih baik.
"Dulu lebih dingin AC-nya, sekarang naik malah payah," katanya.
Nurcahyo juga menilai, pernyataan Jonan yang membandingkan tarif KRL dan ongos bus tidak pas. Menurutnya biaya operasional KRL jauh lebih rendah karena bisa mengangkut banyak penumpang.
"Kalau dilihat kan penumpang KRL selalu penuh, jadi pasti operasionalnya lebih rendah dari bus," katanya.
(nal/nrl)











































