"Saking dekatnya, dia suka menceritakan masalah sekecil apapun. Dulu pernah pertama kalinya BB keluar, iklan di TV, dia sempat bilang, 'Bang handphonenya bagus ya?', 'Kenapa? Kamu mau?', 'Saya pingin beli tapi nggak ada (uang)'. Ya itulah candaan terakhir saya dengan Mayor Heri, ketika dia pingin beli handphone tapi tidak ada uangnya," jelas Roni.
Roni yang mengenakan seragam TNI AU berwings penerbang itu menceritakan hal itu di Skuadron 2 Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (22/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya itu hafal betul sifat Mayor Heri. Dia itu tidak mungkin nakal, nggak mungkin dia minum-minum atau ke diskotek-diskotek. Justru dia itu sering aktivitas olahraganya," jelas Roni.
Selama bertugas menjadi penerbang, tutur Roni, Heri sudah pernah bertugas di Indonesia dari ujung ke ujung.
"Dari misi di Aceh sampai di Ambon bahkan bencana alam pun dia selalu ditugaskan. Dia itu orangnya santai, tidak aneh dan prosedural. Disiplin. Dia itu tidak pernah membantah perintah saya selama saya menjadi instrukturnya. Bahkan beliau itu mahir dan cepat tanggap. Walaupun santai-santai tapi cepat mengertilah. Heri dengan saya itu sudah tidak seperti senior dan junior lagi, melainkan sudah seperti saudara saya. Saya suka mengajak dia bermain golf dia selalu ikut," kenang Roni. Terkadang, dirinya dan Heri suka berbeda pendapat, namun tak jarang mereka kembali berbaikan.
Untuk mengenang Heri dan perwira lain yang gugur, Roni tak segan membantu mengangkat dan menata kursi-kursi di Skuadron 2 untuk para kerabat dan pelayat.
"Banyak kenangan dari Mayor Heri yang tidak bisa dilupakan. Berikut juga dengan perwira lain, kami selalu bekerja sama dan kami bangga bekerja di sini. Sebagai kenangan terakhir, ya ini saya mengangkuti kursi-kursi karena ini tempat kenangan dengan perwira lain termasuk Mayor Heri," kata Roni yang sekarang menjadi staf perencanaan di Mabes TNI AU ini.
(nwk/nrl)










































