Diterima di UGM, Sukmawati Bingung Tak Mampu Bayar SPMA
Jumat, 20 Agu 2004 18:34 WIB
Yogyakarta - Biaya pendidikan yang super mahal kembali menelan 'korban'. Imsak Sukmawati, calon mahasiswi yang diterima di jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), kebingungan karena tidak mampu membayar Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) sebesar Rp 5 juta. Sampai hari ini, Jumat (20/8/2004), Sukmawati dan orangtuanya Ny Sumarni masih berupaya mencari pinjaman sana-sini termasuk dari sanak keluarganya. Siswi SMAN 3 Sragen, Jawa Tengah, ini juga masih berupaya agar dibebaskan dari biaya SPMA."Tapi kalau seandainya permohonan itu ditolak saya ikhlas jika harus mundur dari UGM. Karena kemampuan keluarga saya hanya segitu. Mungkin saya akan mencari pekerjaan dan kalau ada kesempatan nanti baru kuliah," kata Sukmawati kepada wartawan di kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (20/8/2004).Sumarni, yang menemani Sukmawati, juga menyatakan masih berupaya mencari keringanan biaya di bagian administrasi di Gedung Pusat UGM. Namun Sumarni mengaku dirinya pasrah bila anak sulungnya harus mengundurkan diri karena tak mampu membayar. Sebab hari ini adalah batas terakhir pembayaran SPMA bagi mahasiswa baru UGM."Kalau anak saya dibebaskan dari biaya SPMA, saya mungkin masih bisa membiayai kuliahnya meski harus bersusah payah. Tetapi kalau harus membayar SPMA dengan berat hati anak saya terpaksa harus mengundurkan diri," kata Sumarni yang juga guru olah raga di SMAN 3 Sragen.Untuk membayar uang Biaya Operasioanl Pendidikan (BOP) yang dihitung per SKS, SPP dan iuran lain yang totalnya Rp 2.030.000, Sumarni mengaku dirinya terpaksa mencari pinjaman pada sanak keluarga. Sebab penghasilan sebagai guru sangat mempet untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan ketiga anaknya. "Suami saya sudah tidak kerja lagi. Saya masih harus membiayai Sukmawati dan dua adiknya yang saat ini kelas 3 SMA dan kelas 1 SMP. Gaji guru saya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harisaja," katanya.Nasib yang sama juga dialami oleh Sugiono (19), calon mahasiswa asal Kendal yang diterima di Fakultas Fisipol UGM. Sugiono juga bingung seperti Sukmawati ketika diharuskan membayar SPMA sebesar Rp 5 juta sementara orangtuanya hanya seorang petani. Sugiono yang mengaku mengikuti ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Semarang itu, tidak mengetahui adanya SPMA. Namun ketika datang untuk registrasi ke UGM Sugiono kebingungan ketika harus membayar SPMA sebesar Rp 5 juta. "Saya minta bantuan di Posko BEM UGM untuk mencari keringanan biaya," katanya.Sementara itu Asisten Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni, Eddy OS Hiarij SH menjelaskan UGM akan memberi kelonggaran bagi keluarga yang tidak mampu membayar SPMA. Meski batas waktu pembayaran SPMA berakhir pada Jumat (20/8/2004), UGM masih memberikan kelonggaran hingga Selasa (24/8/2004). "Kita tidak akan langsung mendiskualifikasi calon mahasiswa yang belum membayar. Kalau memang benar-benar tidak mampu asal disertai surat keterangan tidak mampu mereka akan kita bebaskan dari SPMA," katanya.
(gtp/)











































