Pengusaha Minimarket Pesimis Panic Button akan Efektif

Pengusaha Minimarket Pesimis Panic Button akan Efektif

- detikNews
Rabu, 20 Jun 2012 17:55 WIB
Jakarta - Maraknya aksi perampokan di minimarket semakin membuat gerah para pengusaha ritel di Indonesia. Namun tawaran polisi untuk menerapkan panic button di setiap gerai minimarket mereka tanggapi dengan pesimis.

"Kami masih mengkaji masalah pemasangan panic button itu. Hal yang kami pertanyakan adalah, apakah itu akan efektif?" ujar Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Tutum Rahanta, pada wartawan di Mal Emporium, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (20/6/2012)

Kendala biaya dalam mengimplementasikan sistem panic button masih menjadi perhitungan para pengusaha ritel tersebut. Tutum menilai lebih ekonomis dengan memasang lampu panik ketimbang sistem yang terhubung dengan markas polisi terdekat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau yang sekarang sudah ada itu kan hanya tombol yang kalau dipencet lalu lampu di luar mini market menyala. Kalau itu biayanya tidak tinggi, bukan masalah. Kalau yang diminta polisi kan yang tombol yang tersambung hingga ke Mapolsek dan Mapolres," ujar Tutum.

Tutum pesimis terhadap respon polisi jika panic button telah benar-benar diimplementasikan. Ia meminta solusi alternatif terhadap kejahatan minimarket yang marak.

"Kalau memang betul disambungkan seperti itu, berapa lama polisi bisa datang ketika tombol dipencet? Hal-hal seperti itu perlu dipertimbangkan. Kan masih ada solusi lain yang dapat dipertimbangkan sebagai usaha preventif terjadinya perampokan minimarket," terang Tutum.

Tutum menjelaskan perlu adanya pertimbangan dan perhatian terhadap kondisi sosial ekonomi lingkungan di daerah sekitar minimarket. "Mereka yang merampok itu kan yang butuh uang karena kondisi ekonominya. Faktor keamanan dan sosial ekonomi yang perlu ditingkatkan," pinta Tutum.

Sebelumnya, pihak kepolisian menjelaskan panic button akan terkoneksi ke polsek dan polres. Saat dibutuhkan, petugas di minimarket akan memencet tombol tersebut dan akan mengeluarkan sinyal atau tanda tertentu.

Tercatat sejak bulan Januari hingga Juni tahun ini terdapat 32 kasus perampokan minimarket. Alfamart adalah minimarket yang paling sering menjadi korban perampokan. Tercatat ada 17 kasus perampokan di toko swalayan itu. Sedangkan perampokan di Indomaret tercatat sebanyak 10 kasus. di Circle-K ada 4 kasus, dan Alfamidi 1 kasus.

Daerah-daerah yang paling rawan perampokan adalah Jakarta Pusat, Bekasi, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Dalam aksinya, perampok-perampok ini selalu melengkapi diri dengan senjata. Senjata api menjadi favorit perampok. 13 Senpi telah diamankan polisi dari sejumlah tersangka yang dibekuk. Air soft gun adalah jenis senjata lain yang dibawa kelompok jahat ini. 12 Air soft gun diamankan polisi dari tangan perampok, dan 7 senjata tajam.

(lh/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads