Uang Banyak, Sensor Cepat

Sutradara Bicara soal LSF:

Uang Banyak, Sensor Cepat

- detikNews
Jumat, 20 Agu 2004 16:40 WIB
Jakarta - Diloloskannya Buruan Cium Gue (BCG) oleh Lembaga Sensor Film (LSF) menimbulkan pertanyaan besar bagi banyak kalangan. Mereka mempertanyakan bagaimana sebenarnya prosedur penyensoran sebuah film. Sutradara kondang Arya Kusuma Dewa memberi sedikit jawaban, seperti ngurus SIM."Jujur saja, ngurus sensor itu seperti ngurus SIM. Kalau SIM, kita bayar Rp 2 juta jadinya bisa cepat. Kalau bayarannya lebih kecil, jadinya pasti lebih lama. Sensor juga begitu. Kalau uangnya banyak, jadinya akan cepat," ungkap Arya Kusuma Dewa pada detikcom, Jumat (20/8/2004)."Sensor itu urusan main gelap. Kalau mau ngomongin sensor, kita ketemuan dengan oknum LSF-nya di mobil. Kalau mereka bilang ada 10 item yang harus disensor, itu bukan benar-benar harus disensor. Asal ada fulus, jumlah yang harus disensor bisa berkurang. Maaf saja kalau saya agak keras, tapi orang-orang yang suka menyensor itu juga harus disensor, harus dikarantina," ujar Arya.Menurut Arya, ia bisa memahami alasan pembentukan LSF. Menurutnya, LSF dibentuk untuk melindungi kepentingan publik yang berkaitan dengan moral, tata nilai dan norma masyarakat Indonesia.Namun yang menjadi masalah, tambah Arya, LSF tidak memiliki ukuran, standar dan patokan yang jelas untuk menyensor sebuah film. Untuk memberikan gambaran yang jelas, Arya menyebutkan sebuah contoh penyensoran adegan dari sebuah filmnya yang berjudul "Novel Tanpa Huruf R". Menurut Arya, adegan pemotongan sapi yang ada di film tersebut disensor tanpa alasan yang jelas."Mereka bilang adegan itu disensor karena mengandung unsur SARA. Ketika ditanya SARA-nya di mana, mereka nggak kasih jawaban jelas. Saya pikir adegan tersebut tidak perlu disensor. Pemotongan sapi 'kan dilakukan umat Islam setiap Idul Adha, itu adalah realita yang terjadi. Lalu kenapa harus dipotong?" jelas Arya.Lantas, bagaimana agar penyensoran LSF tidak lagi menjadi masalah di kemudian hari? Menurut Arya, LSF harus melakukan pertemuan rutin dengan pihak-pihak yang terkait, misalnya produser, sutradara, sosiolog dan lembaga-lembaga keagamaan."LSF harus secara rutin melakukan dialog. Kita duduk bersama-sama dan membahas porno tidaknya sebuah film, SARA tidaknya sebuah film. Kalau keputusan dibuat secara bersama-sama, fair dan memang ada penjelasan logisnya, para kreator film pasti menerima penyensoran mereka," tuturnya.Menurut Arya dan mungkin hampir seluruh praktisi film lainnya, dialog tersebut harus segera dilakukan. Mengapa? Karena sensor adalah masalah yang krusial. Sensor sangat berkaitan dengan kreativitas para kreator film. Adegan penting yang menjadi nyawa sebuah film bisa hilang hanya karena kesalahan penyensoran pihak LSF. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads