Cina: Pertama Kali, Virus Flu Burung Ditemukan pada Babi

Cina: Pertama Kali, Virus Flu Burung Ditemukan pada Babi

- detikNews
Jumat, 20 Agu 2004 16:15 WIB
Jakarta - Cina mengumumkan telah menemukan strain (turunan) flu burung pada hewan babi, untuk pertama kalinya. Sebuah perkembangan yang bisa mendatangkan implikasi serius bagi upaya menghalangi penyebaran penyakit mematikan itu ke manusia.Para ilmuwan setempat menemukan virus berbahaya H5N1 pada babi yang dites pada tahun 2003 dan juga pada babi lainnya tahun ini. Demikian disampaikan pejabat Laboratorium Referensi Avian Influenza Nasional Cina, Chen Hualan kepada wartaan di Beijing."Ini bukan cuma yang pertama kali ditemukan di Cina namun juga di dunia," tukas Chen di sela-sela Simposium Internasional tentang Pencegahan dan Kontrol SARS dan Avian Flu, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (20/8/2004).Catatan yang ia perlihatkan saat presentasi di konferensi tersebut menunjukkan bahwa virus avian influenza telah ditemukan di beberapa peternakan babi di Cina pada tahun 2003 dan 2004. Namun Chen menolak memberikan keterangan lebih rinci."Kita sebaiknya mungkin tidak membicarakan ini lagi... jangan beritakan ini. Begitu diberitakan, ini akan membuat banyak orang sangat ketakutan," tutur Chen.Sebelum pengumuman ini, virus flu burung hanya ditemukan pada unggas dan burung serta penularannya ke manusia masih terbatas. Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO yang hadir pada konferensi Beijing tersebut menyatakan sangat terkejut dengan temuan ini."Ini pertama kali saya dengar di konferensi bahwa babi dilaporkan membawa virus itu," tukas Julie Hall, koordinator WHO untuk pengawasan dan respons penyakit menular di Beijing.Menurutnya, temuan ini sangat mengkhawatirkan. Karena virus flu burung bisa saja bermutasi ke bentuk yang lebih mematikan dan menyebar lebih mudah ke manusia. "Babi mampu menangkap virus influenza burung maupun virus influenza manusia... yang dikhawatirkan adalah jika kedua virus itu bertemu, mereka berbagi informasi genetik dan hasilnya akan lebih berbahaya," ujar Hall. (ita/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads