40% Pegawai Gubernuran Maluku Kurang Gizi & Darah Rendah
Jumat, 20 Agu 2004 15:46 WIB
Ambon - Meski sudah jadi pegawai, belum tentu gizi terpenuhi. Buktinya, sebanyak 40% pegawai kantor Gubernur Maluku kurang gizi dan darah rendah.Demikian hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Said Assagaf, di Klinik Kesehatan Karya Dharma Maluku. Dia memperoleh data bahwa satiap harinya sekitar 30 pegawai datang memeriksakan kesehatannya."Ternyata pegawai di kantor Gubernur terserang kekurangan gizi dan berdarah rendah. Ini sesuai data yang saya dapatkan dari klinik tersebut," ungkap Assagaf kepada detikcom di kediamannya, Jumat sore (20/8/2004).Dari data itu, lanjut Assagaf diketahui berbagai keluhan yang disampaikan para pegawai. Terbanyak dari hasil pemeriksaan dokter, para pegawai mengalami tekanan darah rendah. Hal ini disebabkan beban kerja yang menumpuk dan persoalan gizi.Kondisi ini turut mempengaruhi jumlah pegawai yang setiap harinya melakukan aktivitas. Dari hasil sidak yang dilakukan juga ke biro maupun badan dalam lingkup kantor Gubernur Maluku, Sekda menemukan data absensi rata-rata dari jumlah pegawai yang masuk dan menjalankan tugas rutinnya hanya sekitar 60%. Sisanya 40%, sesuai informasi, sedang tugas belajar di luar Maluku, kunjungan ke daerah dan sisanya sakit.Dalam sidak Sekda yang didampingi Asisten I, Izak Saimima dan kepala protokol Pemda Maluku, Melkias Lohy, juga melihat kondisi ruang yang belum lengkap, baik mebel, nama ruang, AC)dan sarana lainnya. Khusus untuk ruangan yang belum dilengkapi AC, Sekda berjanji akan dipasang pekan depan. Bahkan, Sekda juga menegaskan akan memperhatikan kondisi para pegawainya yang mengalami kurang gizi.Salah seorang pegawai yang enggan disebutkan namanya mengatakan, beban kerja yang ditanggulanginya terlalu banyak. "Tidak tahu, kok kerja kita makin banyak. Sepertinya kerja banyak, tapi tidak diimbangi dengan kapasitas pegawai yang ada," ujarnya.Dia menyarakan agar Sekda Provinsi Maluku serius memperhatikan kondisi kerja pegawainya, baik soal kesejahteraan, kesehatan dan lingkungan kerjanya. Ini faktor pendukung orang kerja yang sehat dan baik. Kalau lingkungan kerja jelek, tentunya kerja tidak akan optimal," sarannya.
(nrl/)











































