"Kuda hitamnya bisa dari golongan politisi generasi berikutnya seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, atau dari kalangan yang dinilai relatif netral seperti Mahfud MD, Khofifah, Dahlan Iskan atau Anis Baswedan,"kata Sekjen PPP, M Romahurmuziy, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/6/2012).
Meski jalan bakal capres kuda hitam tidak mudah. Karena bagaimanapun capres 2014 sebenarnya hampir menutup pintu capres yang baru untuk muncul.
"Melihat calon yang muncul itu-itu saja, berarti untuk menjadi tokoh di Indonesia itu butuh jam terbang cukup. Munculnya tokoh baru yang sama sekali belum dikenal publik pada 5 tahun terakhir, kecil kemungkinannya. Karena dalam situasi social distrust dari publik kepada lembaga-lembaga negara, berharap mereka mudah dan cepat mempercayai tokoh baru sangatlah susah. Jadi, bangsa ini harus menambah kesabarannya 1 periode lagi untuk munculnya pemimpin nasional yang brand new,"paparnya.
Capres baru bahkan tak pernah masuk di hasil survei sejumlah lembaga survei. Namun tentu survei bukanlah pemilu. Dinamika politik masih sangat dinamis menuju pilpres 2014.
"Survei itu punya 2 fungsi, menakar namun juga sekaligus membentuk opini publik. Menakar, jika memang tidak ada yang mengorder lembaga survei. Membentuk opini, jika survei itu order-an. Masalahnya, publik tidak tahu, kapan order-an, kapan murni takaran," tegasnya.
(van/lh)











































