Jahadi hanya termenung di balai-balai rumah biliknya malam minggu lalu, (16/6). Lahan garapannya tak bisa dia sentuh lagi, lantaran ada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang terkena pemagaran listrik. Untung dia tak sepenuhnya menganggur. Jahadi menjadi buruh tani di sawah orang lain di luar kawasan TNUK.
"Tapi hasilnya nggak sebanyak dulu, jauh bedanya," ujar pria tak lulus SD ini dalam obrolan dengan detikcom dan media lain di rumahnya yang sederhana di Legon Pakis, Ujung Kulon, Banten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun proyek pagar listrik tersebut terbengkalai kelangsungannya menyusul protes keras LSM lingkungan, mahasiswa, dan ssebagaunya. Pagar listrik yang dibangun dengan cara membuldozer lahan Ujung Kulon, dianggap merusak lingkungan. Ketika detikcom melihat lokasi, yang tersisa adalah bekas buldozer yang kini tampak seperti jalan lebar memanjang. Lubang-lubang untuk pondasi berjejeran sepanjang jalur.
Proyek ini diakui Jahadi, minim sosialisasi. "Saya cuma dikasih uang kadeudeuh (uang kasihan-red) Rp 1,5 juta, sudah habis buat beli makan," ujar Jahadi.
Warga lainnya, Sanaji (31), tidak seberuntung Jahadi. Dia tidak mendapatkan uang pergantian sama sekali. Dia bahkan tidak tahu ada pembagian uang kadeudeuh kepada 11 orang, yang berbalut acara buka puasa bersama tahun lalu.
"Saya nggak tahu, yang nggak diundang banyak. Kenapa dibedakan, ada apa ini?" kata dia berkeluh kesah.
Pemagaran tahun lalu itu begitu mendadak untuk warga. Sanaji tidak berani bertanya kepada pihak taman nasional ataupun aparat desa. Seperti juga warga desa lain, aparat dan birokrat tampak menakutkan buat orang kecil seperti mereka. Pembelaan warga dilakukan Tim 10 yang terdiri dari berbagai elemen.
"Saya lihat ada beko (Backhoe-red) di ladang saja, saya sudah takut. Apalagi orangnya," kata dia.
Bagaimana bisa ada penduduk di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon? Untuk hal tersebut, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Mohammad Haryono, punya alasannya. Menurut dia, ada sebagian kecil lahan taman nasional di kaki Gunung Honje yang digarap warga.
"Dulu Gunung Honje dikelola Perhutani. Pada 1992 masuk ke dalam TNUK. Ketika sudah masuk taman nasional, sudah ada pemukiman masyarakat. Kita pendekatan terus agar mereka mau keluar dari kawasan, tapi kan harus dipikir juga mereka mau kerja apa," kata Haryono, Minggu (17/6/2012).
Hal itu diutarakannya dalam perbincangan dengan detikcom, sejumlah media nasional dan para blogger Blogdetik di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, Balai Taman Nasional Ujung Kulon di Kecamatan Sumur, Pandeglang. Nah, terkait dengan pagar listrik, Haryono pun mengaku, proyek itu bukannya tanpa alasan.
Menurut dia, ada tanda-tanda bahwa badak kembali datang ke arah Gunung Honje. Sehingga pihak taman nasional merasa perlu memasang pagar listrik dari Laban sampai Karang Panjang dan dari Cilintang sampai Tanjung Sodong.
Hal itu bertujuan agar badak jantan dan betina area jelajahnya lebih terbatas dan lebih sering bertemu. Harapannya, mereka bisa lebih mudah untuk kawin. Berdasarkan data TNUK per Desember 2011, di Ujung Kulon ada 35 badak jawa terdiri dari 22 jantan termasuk 2 jantan anak, dan 13 betina termasuk 3 betina anak.
Lantas, apakah pagar listrik ini tidak berbahaya? "Listriknya hanya mengagetkan kok, tidak akan sampai membunuh. Kalau hewan kecil kan bisa lewat di kolong pagar," kilah Haryono.
Proyek pagar listrik kini ditunda atas desakan berbagai pihak. Penelitian lintas universitas dengan berbagai bidang, sebentar lagi rampung dan akan dibuka pada 29 Juli 2012 mendatang.
Semua pihak kini menunggu, apakah proyek dilanjutkan atas nama konservasi. Atau, pagar listrik ini dibatalkan dan Ujung Kulon dibiarkan alami seperti biasa. Namun apapun itu, semoga hak-hak mencari penghidupan untuk orang kecil seperti Jahadi dan Sonaji, juga bisa dicarikan solusinya yang terbaik.
(fay/lh)











































