Simulasi dilakukan di Jalan Kartini, Makassar, Selasa (19/6/2012). Dalam simulasi yang berlangsung sekitar 2 jam itu, puluhan petugas kepolisian yang berakting sebagai perusuh melempari petugas dengan tomat dan membakar bangunan-bangunan yang sengaja dibuat dari tripleks dan kardus.
Dua mobil watercanon dikerahkan untuk menyemprot para perusuh. Pasukan anti huru hara yang bersenjatakan peluru karet memamerkan kebolehannya menggunakan senapan sambil berkendara motor. Ketika 'korban' berjatuhan, tim kedokteran dan kesehatan Polda Sulselbar dan tim Basarnas Makassar yang terlibat dalam simulasi, langsung melakukan proses evakuasi.
Dalam simulasi ini pula, pihak kepolisian mempertontonkan koordinasi apiknya dengan aparat TNI Angkatan Darat dari Kodam VII Wirabuana, bilamana terjadi situasi darurat dan tidak terkendali. Kodam VII Wirabuana mengerahkan empat unit pansernya yang berkonvoi keliling kota memantau situasi kota yang kacau balau. Setelah situasi dinilai kondusif, sebuah helikopter milik Polda Sulselbar terbang rendah untuk memantau situasi kota pasca kerusuhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika dalam pelaksanaan pengamanannya ada dinamika, saudara-saudara jangan takut mengambil resiko. Kalian tidak boleh membiarkan terjadinya pembakaran atau penjarahan toko, polisi dibenarkan melumpuhkan penjahat sesuai dengan protapnya," ujar Mudji.
Sementara itu Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen Nizam menyebutkan bantuan pihak TNI ke Polri tidak boleh diragukan lagi, selama koordinasi antar dua institusi ini berjalan sukses.
(mna/rmd)










































