Dalam acara pembukaan Pameran World Stamp Championship Indonesia 2012 di JCC Prefunction, Jakarta Pusat, Senin (18/6/2012) President International Philatelic Federation, Tay Peng Hian mengatakan bahwa perangko adalah barang yang berharga.
"Filateli bukan hobi biasa, beberapa ratu di dunia memilih filateli sebagai hobi mereka. Misalnya Ratu Elizabeth dan Ratu Monaco," tutur Tay saat memberi sambutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nilai perangko bukan sekedar tentang biaya pengiriman pos, akan tetapi juga harus dipahami sbg alat pendidikan, informasi publik, dan juga sebagai investasi yang baik," kata Tifatul.
Dengan mengusung tajuk Jembatan Menuju Dunia yang Damai melalui Prangko (Brigding to The World of Peace Trough Stamp), pameran ini diikuti oleh 62 negara anggota Federation Internatinale de Philatelie (FIP).
"Acara ini semacam olimpiade perangko. Dalam 6 hari nanti mereka akan memamerkan koleksi mereka," tambah Tifatul.
Indonesia terpilih sebagai tuan rumah acara ini pada kongres FIP ke-71 pada bulan Oktober 2010 di Lisabon/Portugal.
"Kami bangga akan terujudnya acara ini. Kami pun telah melakukan kegiatan perfilatelian dengan anak-anak usia sekolah, agar dapat memahami arti penting filateli dalam kehidupan," jelas Ketua Umum Perkumpulan Filateli Indonesia, Letnan Jenderal TNI (Purn) Suyono dalam sambutannya.
Salah satu yang akan dipamerkan adalah replika prangko tertua adalah Mauritius yang terbit pada 1874. Mauritius adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudra Hindia, sekitar 900 km timur Madagaskar.
(gah/gah)











































