"Memang artinya itu kok. Istilah itu sudah setara dengan 'miskot' yang artinya miskin kota. Sudah wajar digunakan dalam literasi ilmiah," ujar Thamrin dalam diskusi bertajuk "Black Campaign dalam Pilkada DKI Jakarta 2012" di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (17/6/2012).
Menurutnya, wajar bila ada pihak tertentu yang tersinggung dengan tagline tersebut. "Istilah 'berkumis' itu sah. Jadi kalau dia berkumis lalu tersinggung, ya itu masalahnya," sebut Tamrin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka adalah ahli bahasa dari UI, UNJ, dan dari periklanan. Akan dianalisis apakah bahasa ini boleh dipergunakan di depan umum," jelas anggota Panwaslu, M. Jufri.
Jufri menambahkan hingga saat ini sudah dua kali pertemuan yang dihadiri pihak pelapor dan terlapor. Namun, hasilnya belum bisa diumumkan karena proses analisis masih berlangsung.
Sebelumnya, cagub perseorangan, Hendardji Soepandji dalam kampanye di sejumlah tempat mengatakan dirinya berjanji akan membuat Jakarta tidak berantakan, kumuh dan miskin atau disingkat 'berkumis'.
Tagline ini dibalas Fauzi Bowo yang terkenal dengan kumis tebalnya. "Kumis ini bisa jadi ikon kuat jadi gubernur untuk membasmi kemiskinan dan kekumuhan itu," ujarnya.
(fdn/fer)










































