"Saya rawat pohon ceri, yang akhirnya hidup. Dulu pihak keamanan sempat meminta dipotong, tapi saya menolaknya karena pohon itu teman sependeritaan saya. Pohon ceri udah kayak ganti istri kalau curhat ke pohon, cuma ceri ini yang setia mendengarkan keluh kesah saya," tutur Abdul saat ditemui detikcom di gorong-gorongnya di bantaran Kali Cideng, kawasan Rasuna Epicentrum, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (16/6/2012) malam.
Ya pohon ceri ini juga menjadi saksi rutinitas Abdul yang dimulai pada pukul 4 subuh untuk menunaikan salat subuh. Abdul kemudian membuka hasil pulungannya yang kebanyakan berisi sampah botol plastik dan menjualnya ke pengepul. Setelah melakukan persiapan, Abdul kemudian dijemput mobil Dinas PU Jakarta, meninggalkan gorong-gorongnya untuk menjadi pembersih saluran kali hingga pukul 4 sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada kamus istirahat dalam hidup Abdul yang susah. "Kalau nggak kerja ya nggak bisa makan," tutur Abdul.
Selama hidup di Jakarta 5 tahun, Abdul kemudian menikah dengan Desi Savitry (20) dan mempunyai seorang putri bernama Asmaul Husna yang kini berumur 4 bulan. Anak dan istrinya itu hidup di Bogor, Jawa Barat.
Seiring bertambahnya tanggungan, Abdul tak kunjung memperoleh kejelasan tentang masa depannya. Beratnya kehidupan yang dijalani terkadang membuat Abdul menangis di malam hari usai istirahat.
Hingar bingar Adipura sebagai simbol kebersihan kota di Jakarta juga tak berdampak pada dirinya. Namun dia tetap punya mimpi, mendapatkan pekerjaan tetap, syukur-syukur yang memiliki jaminan kesehatan, untuk menghidupi diri dan keluarganya.
"Biar harus kerja di saluran kali, kayak tikus got, setidaknya mendapat rezeki yang halal," tutup Abdul.
Gorong-gorong yang ditempati Abdul itu berupa tabung beton berdiameter 70 cm dengan panjang 3 meter. Gorong-gorong ini persis terletak di bantaran Kali Cideng, tak jauh dari gedung KPK dan Epicentrum Rasuna. Saluran air yang tersambung ke sebuah apartemen itu semula berisi air pembuangan yang digunakannya untuk mandi. Tapi lama kelamaan air di gorong-gorong itu mengering. Abdul lantas menggunakannya sebagai tempat tinggal baru, pindah dari kolong jembatan.
Di gorong-gorong itu Abdul menyimpan "harta benda"-nya seperti pakaian, kaleng biskuit, dan alas untuk tidur yang terbuat dari banner iklan. Dia juga bisa menggantungkan bajunya di seutas tali di dalam gorong-gorong tersebut.
(nwk/nrl)











































