Elektabilitas Partai Demokrat (PD) terus melorot hingga mencapai 11.3 persen. Berikut hasil analisis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) atas penyebab keterpurukan PD.
Ada tiga hal yang menyebabkan keterpurukan PD. Pertama, PD gagal melakukan kontrol terhadap isu negatif di internal. Kasus Hambalang dan Wisma Atlet yang menyebut dua tokoh sentral PD yaitu Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng, menjadi penyebab PD tersandera dan menunjukkan pengelolaan internal PD gagal.
"Jika terus terkatung dan isu Hambalang terus bergulir sampai 2014, kemerosotan Demokrat terus terjadi," ujar peneliti LSI Adjie Alfaraby di kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Minggu (17/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adjie melanjutkan, penyebab kedua kemerosotan PD adalah adanya kekecewaan kinerja dan kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang semakin banyak disuarakan oleh aneka komunitas.
Beberapa komunitas itu seperti pegiat antikorupsi yang kecewa karena kasus korupsi muncul dari partai SBY sendiri.
"Pegiat kemajemukan masyarakat yang menilai SBY tidak melakukan tindakan yang berarti ketika kekerasan berkedok agama dipaksakan untuk menekan kebebasan beragama," jelasnya.
Kekecewaan terhadap SBY, lanjut Adjie, berimbas pada kekecewaan atas PD. Naik turunnya dukungan SBY otomatis mempengaruhi naik dan turunnya elektabilitas PD.
Penyebab ketiga merosotnya tingkat popularitas dan keterpilihan PD, karena merujuk pada program-program kerja yang langsung masuk ke tengah masyarakat. Selain itu, beberapa partai telah resmi mendeklarasikan capresnya.
"Namun PD masih disibukkan oleh pertengkaran internal. Bahkan ketua umum dan sekjennya di Maluku Utara terkesan 'diusir' oleh komunitas partainya sendiri yang sedang berkonflik," terangnya.
Oleh karenanya, kepemimpinan SBY selaku penentu utama PD diuji. Jika masih terkesan lambat dan tidak ingin mengambil resiko, maka PD akan kembali menjadi partai papan tengah.
"Namun jika SBY bertindak tegas, selayaknya seorang yang memegang komando, lalu melakukan pembersihan partai, 2014 masih terbuka bagi PD," ujarnya.
Analisis ini berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada 2-11 Juni 2012, dengan metode multistage random sampling dari 1.200 responden. Survei ini dilakukan dengan metode wawancara.
Hasilnya Partai Golkar berada di posisi pertama sebagai partai pilihan responden dengan 20.9 persen. Menyusul PDIP dengan dukungan 14 persen dan Demokrat dengan 11,3 persen.
(tfq/fdn)











































