"Kehadiran calon Independen bisa menjadi penyejuk ditengah kepengapan 'bola politis'," kata Siti Zuhro, pengamat politik LIPI di Jakarta, Sabtu (16/06/2012) kemarin.
Menurutnya, mahalnya ongkos untuk menjadi Kepala atau wakil kepala daerah mempengaruhi kualitas para calon. Dikhawatirkan para calon akan melakukan apa saja untuk mengembalikan uang yang sudah mereka keluarkan demi mendanai kampanyenya.
"Ongkos politik yang mahal untuk pencalonan kepala atau wakil kepala daerah jelas memiliki konsekuensi pada kualitas pemerintahannya. Sebab tidak ada makan siang gratis," ucap Zuhro.
Zuhro mengatakan hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) pada Juni 2012 menunjukan DPR adalah lembaga terkorup. Kenyataan ini mengindikasi bahwa partai politik (parpol) tidak lagi menjadi instrumen dalam pendidikan politik dan artikulasi kepentingan.
"Di mata publik parpol cenderung menjadikan dirinya sebagai semacam perusahaan tempat orang berjudi nasib untuk memenuhi kondisi dan kepentingan pribadinya, " sambung Doktor Ilmu Politik Lulusan Curtin University Australia ini.
Kedudukan calon independen menjadi penting karena tidak harus mengikuti keinginan kelompok parpol. Zuhro mencontohkan Faisal-Biem sebagai sosok yang perlu dikenal lebih dekat lewat buku yang mereka luncurkan. Buku itu bisa menjadi kontrak politik antara pemilih dengan Faisal-Biem jika nantinya mereka terpilih menjadi kepala atau wakil kepala daerah. Pemilih bisa menuntut janji yang sudah mereka tuliskan dalam bukunya.
"Di tengah pemilih yang semakin cerdas, buku faisal-biem ini merupakan penegas dari keduanya. Buku ini menjadi 'kontrak politik' Faisal Biem yang sewaktu-waktu bisa dimintai pertanggung jawabannya," tegas Zuhro.
(mad/mad)











































