Pandangan ini dikemukakan oleh pengamat politik dari Charta Politika, Arya Fernandes. Menurut Arya, bisa tidaknya wacana ini berjalan tergantung kepada kesiapan partai itu sendiri.
"Beberapa partai sudah mulai mencoba untuk mengaplikasikan wacana tersebut seperti PKS, ada Golkar. Tetapi saya melihat apakah itu akan mempengaruhi menteri atau tidak. Saya melihat kelembagaan partai kita belum cukup kuat. Sistem manajemen partai yang modern belum baik," ujar Arya saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (16/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Figur-figur pendulang suara tersebut saat ini masih dianggap sebagai simbol utama partai, yang membuat wacana pemisahan tersebut sulit untuk diwujudkan. Akibatnya, efek yang terlihat adalah kinerja figur tersebut di pemerintahan dan di partai menjadi tak maksimal.
"Contohnya, beberapa menteri menjadi tidak fokus membesarkan partai dan juga tidak fokus bekerja sebagai menteri. Kalau tidak mempengaruhi kinerjanya tidak masalah, hanya yang kita lihat selama ini kan seperti itu. Ke depan, dibutuhkan medium-medium strategis supaya partai dapat berkomunikasi dengan masyarakat," papar Arya.
(gah/mok)











































