Sempat terjadi insiden kecil di tengah pelaksanaan peringatan jumenengan PB XIII di Keraton Surakarta. Rekonsiliasi yang terjadi dua kubu ternyata masih menyisakan ketegangan pada para pendukungnya. Di tengah khidmat acara tradisi, saling bentak dan saling dorong terjadi di hadapan para tamu undangan.
Keributan terjadi ketika Tedjowulan dipanggil untuk mendekat dan duduk di posisi kehormatan di depan singgasana raja di lantai Sasono Sewoko. Tedjo dan rombongannya kemudian mendekat menuju lokasi tersebut.
Namun tidak semua kerabat yang mengiringinya diperbolehkan duduk di lokasi tersebut. Salah satu yang dilarang adalah GPH Madukusumo, putra almarhum PB XII yang merupakan pendukung Tedjowulan. GKR Retno Dumilah, kakak kandungnya yang memihak pada kerabat, mempersilakannya duduk di kursi di Paningrat, belakang Sasono Sewoko, bersama para tamu undangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana gaduh itu itu tentu saja mengejutkan para tamu undangan yang hadir. Para undangan dari sejumlah kerajaan Malaysia bahkan segera menyingkir dari lokasi keributan. Tak terkecuali Anita Chairul Tanjung, istri pengusaha Chairul Tanjung, karena lokasi keributan peris berada di depannya. Bahkan untuk menghindari kemungkinan terburuk, Ishadi SK, komisari Trans Corp, segera berdiri dari tempat duduknya dan melindungi posisi duduk Anita.
"Tadi Ibu sempat berteriak karena panik dan bahkan meminta pulang meninggalkan keraton. Tetapi setelah ditenangkan akhirnya Ibu bersedia mengikuti acara lagi," ujar Andri, ajudan Anita C Tanjung.
Saat ini peringatan jumenengan masih berlangsung untuk menyaksikan tari Bedhaya Ketawang, tarian sakral Keraton Surakarta yang berdurasi lebih dari 2 jam.
(mbr/trw)










































