SBY Dialog dengan Para Petani
Kamis, 19 Agu 2004 17:40 WIB
Bogor - Jika kubu Mega-Hasyim sedang sibuk mendeklarasikan Koalisi Kebangsaan, SBY malah sibuk dengan petani. Persis seperti mantan Presiden Soeharto dulu, SBY juga tekun mendengarkan keluh kesah para petani.SBY bertemu dengan para petani di sekitar desa Bojong Nangka, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/8/2004). SBY berdialog di sebuah gubug milik Pak Mayar, salah seorang petani.Satu persatu, para petani berkeluh kesah kepada SBY tentang kehidupan mereka yang semakin sulit. Mulai dari soal tanah sampai sulitnya mencari pekerjaan bagi anak-anak mereka yang banyak menganggur."Pak Bambang saya mohon jika bapak menjadi presiden perhatikan nasib petani, khususnya masalah pertanahan. Saya bingung, sampai saat ini saya masih ditagih PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), padahal tanah saya sudah lama dijual. Alasan kelurahan, akte balik namanya belum beres," kata Mayar.Hasan, petani lainnya mengaku takut terusir dari desanya sendiri. Hal ini disebabkan makin maraknya pembangunan perumahan di sekitar desanya."Tanah di sini sudah banyak yang dikuasai para developer. Pembangunan perumahan-perumahan di sekitar daerah sini semakin marak. Banyak petani karena demi menutup kebutuhan hidup, terpaksa menjual tanahnya," kata Hasan.Sedangkan Ibu Nunung, lain lagi keluhannya. Wanita separuh baya ini menceritakan sulitnya anak-anak muda desa mencari pekerjaan."Para pemuda di sini sebagian besar bekerja sebagai tukang ojek. Sebagian lagi penganggur karena tidak mampu membeli motor. Dulu memang banyak yang bekerja di pabrik, tapi hanya satu atau dua bukan terus di-PHK," papar Nunung.Banyak lagi permasalahan lainnya yang disampaikan warga Bojong Nangka kepada SBY. Mereka semua berharap, SBY akan mengatasinya jika terpilih menjadi presiden.Menanggapi hal itu, SBY mengatakan, dirinya tidak bisa serta merta merubah nasib rakyat. Namun, kata SBY, dirinya akan berusaha sekuat tenaga merubah nasib rakyat. Hal utama yang akan dilakukannya adalah meningkatkan fasilitas umum bagi rakyat miskin."Kunjunga saya ke beberapa daerah, modus yang paling menonjol rakyat miskin jarang justru tidak tersentuh publik service. Contohnya saja di sini, ternyata di sini tidak ada listrik karena warga tidak mampu membayar biaya pendaftaran dan biaya-biaya lainnya ke PLN," ujar SBY.SBY juga memandang penting digalakan kembali program Keluarga Berencana (KB). Menurut SBY, ledakan jumlah penduduk dapat menjadi ancaman bagi kestabilan ekonomi dan keadilan sosial. "Pertumbuhan ekonomi setinggi apapun tidak akan ada artinya bila KB gagal," tegas SBY.
(djo/)











































