"Ini satu fenomena perubahan sosial masyarakat kita yang sangat individualistik. Lu lu gue gue, tidak mau pusing dengan orang lain. Orang lain kalau mengganggu sedikit saja, dia ribut bereaksi tanpa ada toleransi sedikit pun. Ini adalah salah satu fenomena yang menurut saya bertentangan dengan watak bangsa -Indonesia," kata Musni kepada detikcom, Selasa (12/6/2012).
Perubahan yang terjadi pada masyarakat dari kehidupan komunal yang tadinya menyatu satu dengan yang lain sekarang berubah menjadi individualisme. Orang sudah tidak mau peduli terhadap orang lain, yang penting bisa hidup tenang. Hidup senang tidak ada yang mengganggu. Jika ada yang mengganggu bukannya diselesaikan dalam suasana musyawarah tapi malah dibawa ke pengadilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Musni menambahkan, fenomena individualistik ini membuat budaya ketimuran Indonesia tercabik-cabik dan mendekati kepunahan. "Budaya Timur kita yang luntur, khususnya lagi budaya Indonesia itu sudah tercabik-cabik memudar dan mendekati kepunahan, akibat serangan budaya asing. Itu yang membawa paham individualistik," ujar doktor bidang sosiologi pembangunan Universitas Kebangsaan Malaysia ini.
Musni mencontohkan, kasus penemuan mayat di Menteng dalam keadaan membusuk, menurutnya menunjukkan orang tidak peduli lagi antara satu dengan yang lain. "Enggak peduli, enggak mau tahu dengan orang lain apalagi mau membantu," ujar Musni.ο»Ώ
(asp/nrl)











































