Resep Perubahan SBY Dianggap Sama Dengan Soeharto
Kamis, 19 Agu 2004 15:37 WIB
Jakarta - Resep perubahan SBY dianggap sama dengan Soeharto. Rakyat diminta jangan mudah terpesona iming-iming perubahan. Sebab pemerintahan Orba dan militer tidak akan ada lagi."Perubahan yang ditawarkan SBY seperti apa, kita belum tahu. Karena yang saya lihat, resep Jenderal SBY tidak jauh beda dengan Jenderal Soeharto. Karena SBY tidak menganggap parpol penting dalam demokrasi. Parpol hanya dianggap sarana untuk kasak-kusuk. Ini mengingatkan kita seperti Golkar lama."Demikian kata Heri Akhmadi selaku anggota Tim Sukses Mega-Hasyim usai mengikuti acara diskusi di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (19/8/2004)."Jangan mudah terpesona dengan iming-iming perubahan. Karena arahnya kemana juga tidak jelas. Berubah bisa menjadi sama dengan gubrak," ujarnya.Sedangkan Koalisi Kebangsaan yang digagas 4 partai, yakni PDIP, Golkar, PPP, dan PDS, menurut dia, sudah jelas arahnya. "Kita ingin keterbukaan, sehingga berbagai macam golongan dapat tumbuh dengan baik. Asas pluralisme ini yang kita pegang," jelas Heri.Mengenai kekhawatiran kekuatan Orba akan muncul lagi dengan adanya Koalisi Kebangsaan, dia menampiknya."Apa mungkin? Karena konstitusi yang sedang kita bangun, yang mengubah kan fraksi-fraksi yang ada di DPR sekarang. Lihat saja peran PDIP dan Golkar di situ. Saya tidak khawatir Orba kembali lagi, karena itu harus lewat kudeta militer. Sedangkan pemerintahan militer tidak akan ada lagi," tukasnya.Langkah koalisi ke depan setelah deklarasi, papar Heri, akan diadakan program training dan kerja sama dalam pelatihan. Programnya sudah ada dan disepakati untuk dijalani.Keseluruhan koalisi tersebut, menurut dia, sudah masuk dalam kontrak politik. Sedangkan upaya agar mesin politik partai bekerja maksimal dan efektif, sudah dimulai dilakukan rapat koordinasi.Kalau Mega-Hasyim tidak terpilih, koalisi kemana? "Kita jelas akan oposisi dan tidak akan menjadi kekuatan yang bergabung di pemerintah pusat. Tapi kita tetap bekerja sama di daerah," kata Heri.Mengenai keinginan Golkar memimpin koalisi, dia mengaku tidak keberatan. "Kepemimpinan dalam koalisi bersifat kolektif. Tapi kalau ada koordinator dari Partai Golkar, kami tidak apa-apa, kami tetap terbuka," demikian Heri.
(sss/)











































