Ustadz Syaifuddin Masih Depresi
Kamis, 19 Agu 2004 13:35 WIB
Surabaya - Guru ngaji yang sempat ditangkap Polri, Ustadz Syaifuddin Umar sampai sekarang masih depresi, meski kondisinya makin membaik. Pihak keluarga tetap ingin penganiaya Syaifuddin alias Abu Fida diusut. Sampai Kamis (19/8/2004), kediaman orang tua Syaifuddin, Umar Ibrahim, yang berlamatkan di Jl. Sidotopo Lor, Surabaya, masih dipenuhi wartawan. Ada kabar, keluarga Syaifuddin, Tim Pengacara Muslim (TPM), dan Aliansi Solidaritas untuk Muslim (Asoum) akan menggelar jumpa pers. Namun, sampai berita ini diturunkan, jumpa pers belum digelar. Sempat juga ada kabar, bahwa keluarga Syaifuddin dan TPM akan mendatangi Kapolda Jawa Timur. Namun, ada informasi rencana itu batal.Sampai sekarang, wartawan masih menunggu di depan rumah Umar Ibrahim yang tampak sederhana itu. Rumah tiga lantai yang berdiri di lahan sempit 3x7 meter itu masih tampak sepi. Pintunya masih tertutup rapat. Rumah ini terletak di sebuah gang kecil. Menurut informasi dari seorang sumber, sampai sekarang Syaifuddin masih depresi. Namun, kondisinya sudah membaik dibanding hari-hari sebelumnya. Syaifuddin yang tubunya penuh luka bekas siksaan itu sudah bisa berbicara, meski tatapannya masih kosong. Sejak ditemukan dalam keadaan yang memprihatinkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Dr Soetomo pada 11 Agustus lalu, rumah Umar Ibharim sering dikunjungi para aktivis Islam. Mereka menaruh iba atas nasib yang dialami Syaifuddin. Oleh orang tuanya, Syaifuddin sempat dibawa ke RS Jiwa Menur Surabaya. Namun, hanya bertahan sehari. Setelah itu, orang tuanya membawa Syaifuddin pulang dan merawatnya di rumah. Kasus yang dialami Syaifuddin ini kian menarik, setelah Polri mengaku telah menangkap Syaifuddin. Beberapa hari sebelumnya, baik Polda Jatim maupun Mabes Polri, mengaku tidak mengetahui dan mengaku tidak menangkap Syaifuddin. Setelah itu, ada pejabat Mabes Polri yang mengaku Polri menangkap Syaifuddin dan masih menahannya. Semuanya, terkesan tampak dibuat simpang siur. Sampai, akhirnya, Rabu (18/8/2004) kemarin, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Hendro Wardoyo menggelar jumpa pers khusus mengenai hal ini. Ini juga agak janggal, karena sebelumnya ada kabar Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Edy Sunarno yang menggelar jumpa pers, namun akhirnya batal. Dalam keterangannya, Hendro menegaskan, Polri memang menangkap Syaifuddin pada 4 Agustus lalu. Syaifuddin ditangkap karena diduga menyembunyikan dedengkot kasus pengeboman di Indonesia, Azahari dan Nurdin Moh Top, saat bersembunyi di Surabaya beberapa waktu lalu. Namun, Hendro membantah polisi melakukan penganiyaan terhadap Syaifuddin. Menurut Hendro, polisi telah melepaskan Syaifuddin pada 10 Agustus lalu dalam kondisi sehat. Hendro memastikan bahwa saat dilepas di Kediri, Syaifuddin sempat dipotret dan dalam kondisi sehat. Tapi, saat foto itu diminta wartawan, Hendro berkilah bahwa foto itu sekarang ada di tangan penyidik. Hendro juga menjelaskan, Syaifuddin dilepaskan karena telah memberikan keterangan kepada Polri. Syaifuddin juga diharuskan bertemu penyidik tiga hari sesudah pelepasan itu, karena status Syaifuddin masih sebagai tersangka.
(asy/)











































