Ontran-ontran di Dekopin (4)
Sekadar Manis di Atas Konsep
Kamis, 19 Agu 2004 13:17 WIB
Jakarta - Gaungnya cukup enak didengar rakyat. Kata-katanya bisa menyejukkan hati. Itulah saat para politikus, ekonom, atau pemerintah memberikan iming-iming tentang konsep ekonomi kerakyatan dan koperasi kepada rakyat.Bagaimana tidak, dalam konsep ekonomi kerakyatan pemerintah maupun politikus menjanjikan akan membangun sistem ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil. Apa sebenarnya ekonomi kerakyatan itu? Yaitu merupakan kegiatan ekonomi yang menghidupi kita. Setiap hari yang kita hidangkan di meja makan adalah bahan-bahan hasil produksi rakyat. Beras sampai garam, sayur-mayur sampai bumbu, kerajinan, home industri, dan berbagai produksi perekonomian rakyat, bukan produksi ekonomi konglomerat.Bicara soal ekonomi kerakyatan, pada akhirnya bersinggungan dengan koperasi. Pasalnya, banyak pakar berpendapat koperasi merupakan sokoguru (tiang pancang) dari ekonomi kerakyatan. Dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan ini, koperasi berperang penting, baik dalam distribusi, permodalan sampai berbagai cara peningkatan produksi."Sayangnya harapan ekonomi kerakyatan akan didukung kian kecil. Buktinya, koperasi hanya mendapat sokongan sangat minim dari pemerintah. Bahkan bantuan dari APBN sangat kecil, sekitar Rp 24 M. Maka kami dalam kepengurusan Dekopin akan memperjuangkan kenaikan subsidi APBN," kata Benny Pasaribu, Ketua Umum Dekopin versi Hotel Century.Karenanya, Benny berjanji setelah dirinya terpilih menjadi Ketua Dekopin ini, ia akan mengembalikan koperasi ke rel-nya. Selain itu, ia juga akan menata kembali Dekopin yang selama ini telah hancur karena tidak berfungsinya lembaga itu dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan yang dihadapi gerakan koperasi.Dekopin juga dinilai tidak mampu melakukan sinergi usaha bagi induk-induk koperasi. "Padahal selama ini pemerintah sudah memberikan peluang yang cukup besar bagi koperasi untuk berkiprah. Tapi Dekopin tidak bisa memanfaatkan. Ini merupakan kegagalan kepemimpinan Nurdin Halid," kata Benny Pasaribu.Sementara itu, pengurus Dekopin versi Hotel Aryaduta, Agung Sudjatmoko, yang menjadi pelaksana tugas ketua umum, mengakui bahwa selama ini program-program kerja Dekopin di bidang usaha perkoperasian lebih difokuskan pada tingkat Dekopinwil dan Dekopinda untuk lebih memberdayakan unit-unit koperasi di daerah.Sedangkan untuk kalangan induk koperasi yang bergerak secara nasional dibiarkan melakukan kegiatan sendiri karena dianggap mempunyai akses yang memadai. Namun ternyata kalangan induk koperasi juga membutuhkan dukungan kegiatan usaha.Koperasi pernah memperoleh perhatian serius sewaktu menteri koperasi dipegang oleh Adi Sasono. Dengan program kerakyatannya, Adi Sasono menghidupkan gerakan koperasi dengan memberikan kesempatan lebih besar untuk ikut serta dalam pembangunan ekonomi. Perhatian dan keberpihakan pemerintah itu tunjukkan dengan bantuan pemerintah kepada koperasi dan usaha kecil yang cukup besar, terutama yang berbasis Usaha Kecil dan Menengah (UKM).Semasa Menkop Adi Sasono dan Presiden Habibie ini, disiapkan bantuan kredit koperasi usaha kecil menengah sebesar Rp 10,8 triliun. Jumlah ini merupakan bantuan terbesar yang selama ini dialokasikan pemerintah kepada koperasi dan usaha kecil. Namun realisasi kredit yang besar tersebut ternyata tak semulus teori. Entah karena persoalan SDM ataupun niatan awalnya memang sudah tak murni, kredit tersebut justru macet dimana-mana. Banyak laporan telah terjadi penyelewengan di hampir semua tingkatan pengurus koperasi. Bahkan kabar miring cukup santer menyebutkan sebagian uang tersebut digunakan oleh Adi Sasono untuk membiayai Partai Daulat Rakyat (PDR) yang didirikannya menjelang pemilu 1999.Lacurnya, bisa ditebak, proyek itu gagal total. Sampai sekarang, proyek ini menyisakan tunggakan cukup besar. Pihak-pihak yang telah menerima dana kini dalam intaian penegak hukum karena dugaan penyelewengan. Yang tersundut, beberapa diantaranya terpaksa meminta pemutihan kredit. Pemerintah sendiri sejauh ini menolak permintaan tersebut. Di sisi lain, pemerintah pun jadi kapok menganggarkan bantuan lebih besar ke sektor koperasi.Begitulah, cerita manis ekonomi kerakyatan dengan sokoguru perkoperasian masih sebatas dongeng pengantar tidur. Manis di buku, belum tentu berjalan baik saat dilaksanakan. Agaknya, yang dibutuhkan memang bukan sekadar tukang pembawa cerita dongeng!
(tbs/)











































