Pram: Koalisi Kebangsaan Bukan Koalisi Orde
Kamis, 19 Agu 2004 13:06 WIB
Jakarta - Koalisi Kebangsaan menolak disebut sebagai Koalisi Orde, yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Juga bukan tanda kebangkitan Orde Baru."Koalisi tidak ada istilah Orba, Orla, Orde Reformasi, dan lainnya. Tapi ini Koalisi Kebangsaan, bukan Koalisi Orde."Demikian tegas Wasekjen PDIP Pramono Anung dalam jumpa pers usai Deklarasi Koalisi Kebangsaan oleh PDIP, Partai Golkar, PPP, dan PDS di Hotel Grand Melia Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (19/8/2004).Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung berpendapat senada saat ditanya apakah kehadiran Ketua Umum PKPB R Hartono yang identik dengan Keluarga Cendana itu dalam acara deklarasi merupakan tanda kebangkitan Orde Baru."Koalisi partai ini dilakukan secara terbuka. Berarti ini untuk pembangunan masa depan, tidak lagi mempersoalkan masa lalu. Kita harus melihat ke masa depan yang lebih baik," kata Akbar.Mengenai pembentukan kabinet, menurut dia, akan dibicarakan setelah Pilpres putaran dua. Yang penting semangatnya, kabinet yang akan dibentuk memiliki kompetensi, kapabilitas, kuat dan efektif.Untuk meyakinkan masyarakat atas dukungan Golkar dalam Koalisi Kebangsaan kepada Mega-Hasyim, Akbar mengaku akan turun ke daerah-daerah semua propinsi mulai minggu depan."Yang pertama ke Jatim. Saya akan mengumpulkan seluruh DPD-DPD dan saya akan menjelaskan tujuan koalisi ini di berbagai daerah," ujarnya.Untuk itu, lanjut dia, akan dibentuk tim gabungan masing-masing partai untuk menindaklanjuti koalisi ini hingga ke akar rumput. Mereka akan mengikrarkan koalisi tersebut dari kabupaten/kota hingga tingkatan paling bawah. Juga akan dilakukan di tingkat parlemen pusat hingga daerah, yakni DPRD I dan II."Meskipun dibentuk koalisi, kami tetap mempertahankan identitas partai kami masing-masing," jelas Akbar.Cawapres Hasyim Muzadi juga mengaku akan terjun langsung untuk meyakinkan masyarakat mengenai Koalisi Kebangsaan. "Saya akan terjun langsung ke masyarakat bersama teman-teman untuk mengkonkretkan agenda ini," katanya.Pembentukan kabinet? "Sudah tercermin. Untuk menjaga aspirasi siapapun, dipersilakan untuk berembug bersama guna menyalurkan aspuirasinya, termasuk komposisi di kabinet. Yang penting loyalitasnya kepada negara, bukan partai," tukas Hasyim.
(sss/)











































