Prof. Sofjan: Presiden Prancis Lebih Pancasilais

Laporan dari Den Haag

Prof. Sofjan: Presiden Prancis Lebih Pancasilais

- detikNews
Sabtu, 09 Jun 2012 11:21 WIB
Prof. Sofjan: Presiden Prancis Lebih Pancasilais
Den Haag - Di negara ini Pancasila sekadar isapan jempol dan simbol mati yang tidak terrefleksikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Prancis presidennya justru mencontohkan sikap hidup Pancasilais.

Pendapat itu disampaikan staf pengajar pada Islamic University of Europa, Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom di Den Haag, Jumat (8/6/2012) waktu setempat.

"Ketika Francois Hollande terpilih jadi presiden Prancis, dia langsung mengumumkan pemotongan 33% dari gajinya dan seluruh menteri dan pejabat Prancis. Pelantikan juga dilakukan dengan upacara sederhana," ujar Sofjan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan ketika menghadiri rapat pemimpin Uni Eropa mengenai krisis Euro di Brussel dua pekan lalu, Hollande berangkat dari Paris ke Brussel dengan kereta api komersial, bukan dengan pesawat terbang, apalagi pesawat khusus kepresidenan.

"Hollande tidak mengumbar janji ketika kampanye pilpres, namun pemimpin partai pro rakyat ini membuktikan komitmennya dengan perbuatan, bukan dengan perkataan atau kampanye gombal," imbuh Sofjan.

Menurut Sofjan, pemimpin semacam inilah yang disebut pemimpin Pancasilais, walaupun dia tidak pernah berteriak-teriak soal Pancasila. "Ini bedanya Pancasilais dengan pencaksilais," sindir Sofjan.

Lanjut Sofjan, sikap presiden Prancis itu merupakan contoh pemimpin Pancasilais dalam membela rakyat dan mengorbankan syahwat materinya. Hal ini sesuai dengan prinsip syariat Islam yang menerapkan kaidah itsar yaitu prinsip mendahulukan kepentingan orang lain atau rakyat daripada diri sendiri.

"Coba anda bandingkan dengan kebanyakan pemimpin di Indonesia, yang --meminjam istilah Quran-- tuli, buta dan kerakusannya mirip binantang bahkan lebih sesat dari hewan," cetus pakar syariah ini.

Dari perspektif siyasah syariyah, imbuh Sofjan, Hollande bisa disebut dan dikategorikan pemimpin yang menerapkan prinsip dan norma Islami karena dia mendahulukan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan dirinya.Inilah satu diantara norma syariat Islam yang memihak kepada rakyat lemah.

"Artinyadalam hal keberpihakan kepada rakyat lemah dan berbuat apa yang dijanjikan maka Prancis telah menerapkan aspek penting dalam siyasah syariah islamiyah," tersng Sofjan.

Hal itu juga sesuai dengan political statement sangat monumental dari Ibnu Taimiyah, bahwa pemimpin atau suatu negara kafir yang menerapkan prinsip adil akan ditolong oleh Tuhan, sedangkan pemimpin atau negara Islam yang penuh kedhaliman tidak ditolong oleh Tuhan.

"Coba anda bandingkan perangai pemimpin di Indonesia, setelah dilantik berusaha merampok harta negara dengan berbagai cara, yang menunjukkan bahwa mereka memang tidak lebih dari pengkhianat negara yang harus diadili dan masuk penjara, bukan abdi negara yang mengabdi," pungkas Sofjan. (es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads