Eep: Efektivitas Koalisi Kebangsaan Serba Terbatas
Kamis, 19 Agu 2004 12:58 WIB
Jakarta - Pengamat politik Eep Saefullah Fatah menilai, koalisi kebangsaan yang baru saja dideklarasikan tidak terlalu efektif untuk menyokong Mega-Hasyim. Mengapa?Berikut petikan wawancara detikcom dengan Eep Saefullah Fatah, Kamis (19/8/2004) pukul 12.30 WIBBagaimana efektivitas koalisi kebangsaan menurut Anda?Efektivitasnya serba terbatas karena partai sekarang bukan acuan yang begitu penting bagi pemilih untuk menentukan pilihannya. Karena para pemilih kita makin otonom dan independen.Untuk efektivitas jangka menengah, yaitu menyokong pemerintahan seandainya Mega-Hasyim yang menang, ini pun belum tentu efektif. Karena dalam menyokong pemerintahan, bisa terbentur kepentingan partai-partai tersebut.Misalnya, jika ingin memberantas korupsi, harus mengorbankan Golkar. Akhirnya bisa jadi korupsi malah tidak diberantas. Efek sampingnya, timbul cidera kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintahan ini.Apa jika SBY menang terjadi instabilitas politik karena koalisi yang besar di parlemen?Ancaman instabilitas bisa muncul baik pada pemerintahan Mega-Hasyim atau pun SBY-JK. Karena sumber instabilitas bisa macam-macam. Misalnya saja partai bisa bekerja di parlemen dengan logika terpisah dari koalisi partai yang menyokong pemerintah. Jadi bisa saja partai penyokong pemerintah tapi wakilnya di parlemen malah jadi pihak oposisi.Sumber instabilitas lain adalah ketidakmampuan pemimpin untuk mengelola koalisinya seperti yang terjadi pada masa Gus Dur. Selain itu, bila kebijakan yang dibuat pemerintah tidak mencerminkan orang banyak, bisa terjadi instabilitas dari masyarakat.SBY harus di mana dalam mengahadapi koalisi ini?Tetap pendekatan langsung pada masyarakat karena yang menentukan tetap mereka. SBY juga sebaiknya mengorganisir dukungan dari lembaga sukarela sebagai mesin politik yang bekerja fungsional.Dalam menghadapi 20 September, SBY harus siap jadi produk yang layak jual dan mengibaratkan pemilih sebagai konsumen.Bagaimana prediksi Anda tentang golput?Golput meningkat karena banyaknya swing voter, termasuk orang-orang yang pilihannya tidak lolos ke putaran II.
(nrl/)











































